Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 05 Juli 2012

Sumpe' loh, ini namanya zine?! #4

Edisi 4 ini lahir sudah dengan desain dan lay out menggunakan corel-draw. Bukan, bukan aku yang ngerjain. Tapi pacar baru. Hehe..
Punya pacar baru memang banyak memberikan efek pada proses membuat zine ini. Banyak influens musik, materi bacaan untuk referensi, juga pandangan hidup yang sedikit banyak ikut merubahku menjadi Gita yang baru.
Tapi khusus desain cover, aku pilih konsepku sendiri.



Sedikit refleksi dari Sumpe' Loh Ini Namanya Zine?! #4

Hidupku yang kacau atau aku yang gagal mengendalikan hidup?

Setelah orangtuaku pisah, aku memulai hidup baruku. Dengan harapan baru dan nafas hidup yang baru. Kata orang, tahun baru adalah awal kita memulai lembaran hidup yang baru. Tapi, sepertinya kata-kata itu tidak berlaku untukku.

Aku terpaksa menghentikan kuliahku karena menolak dibiayai bapak. Aku berusaha keras mencari kerja agar dapat membiayai hidupku sendiri. Juga untuk membantu ibu yang praktis setelah pisah dengan bapak, tidak memiliki pemasukan apapun. Berbulan-bulan aku terlunta-lunta. Dari rumah saudaraku yang satu sampai ke rumah singgah lainnya. Sampai pada akhirnya seorang kerabat jauh menawariku sebuah posisi freelance di redaktural sebuah majalah anak-anak. Langsung saja aku terima tawaran itu.

Walaupun tak punya bekal cukup, aku nekat memberanikan diri untuk menulis. Jelek-jelek begini, aku sudah menulis cerpen sejak SMP dan pernah menang lomba menulis kisah cinta di sebuah lomba.

Beberapa cerpen kutawarkan ke pemred agar bisa dimuat. Aku juga menulis beberapa artikel untuk edisi perdana majalah tersebut. Tak kusangka ternyata diterima. Yah..walaupun naskahku tidak seluruhnya orisinal alias direvisi kembali oleh sang editor. Dan artikelku diubah, semi total. Tapi aku nggak mau menyerah secepat itu. Memang sempat beberapa kali aku kecewa dan bahkan menangis. Tapi aku terus mencoba. Sampai edisi ke-4 saat ini. Ada rasa puas luar biasa dalam diriku.

Mungkin itulah yang bisa kubanggakan. Sebenarnya dari setiap tahapab hidupku, aku selalu merasa gagal. Hampir setiap saat aku merasa tidak mampu. Sebelum memulai pekerjaan saja aku sudah ketakutan setengah mati. Kalah sebelum berperang. Hingga kadang aku harus menunggu dimarahi dulu agar.otakku panas. Isilahnya, aku harus dipancing dulu. Nah, itu dia yang kusesalkan sampai saat ini. Kenapa ya, aku sulit sekali memotivasi diri.

Kegagalan itu datang silih berganti. Menjadi masalah yang datang seakan tanpa henti. Aku memang boleh bangga karena di usia semuda ini dan dalam keadaan yang tidak sebaik orang lain, aku sudah bisa menghidupi diriku sendiri. Tapi apa imbasnya? Aku hilang kendali.

Seharusnya aku bisa membantu ibu lebih banyak atau juga menyimpan uangku agar bisa kupakai di lain waktu bila kuperlu. Tapi aku nggak begitu. Baru saja gempokan uang itu kuterima, besoknya aku sudah sibuk cari hutangan untuk makan. Nah lo! Padahal aku juga tidak menghabiskan uang-uang itu untuk membeli sesuatu yang berarti. Lihat saja, hidupku tidak jauh lebih baik.

Seseorang bilang, ini memang sudah uratku. Dulu aku tidak pernah punya uang banyak, maka sekarang, hal itupun terjadi lg. Seakan aku memang ditakdirkan untuk selalu miskin dan tidak boleh punya uang. Benarkah begitu?

Sekarang aku kebingungan. Ibu meminta bantuanku untuk memulai usaha. Dia butuh modal yang tidak sedikit. Lalu aku bisa apa? Ternyata aku NOL! Aku gagal membantunya. Aku tidak bisa diandalkan. Padahal aku ingin sekali membuatnya bangga. Karena, siapa lagi yang bisa membuatnya bahagia selain aku, putri tunggalnya.

Ah..aku nggak mau begini terus. Aku harus pegang kembali kendali penuh atas hidupku. Memangnya siapa lagi yang bisa menolongku kalau bikin aku. Ibu yang sangat kusayangipun tidak akan sudi kalau hidupku terus-terusan kacau begini.

Baiklah kalau begitu. Aku akan berubah. Mungkin perlahan, tapi aku harus. Meskipun aku belum bisa apa-apa, maka aku harus bisa satu saat nanti. Masih banyak orang yang jauh lebih susah. Dan anehnya di luar sana banyak sekali orang yang lebih menyedihkan. Kenapa? Ya, karena mereka lebih menyia-nyiakan kesempatan waktu, uang, dan hidup mereka hanya untuk kesenangan semu.

Bukankah mereka seharusnya lebih bersyukur daripada aku? Bukankah mereka sebaiknya lebih menghargai hidup mereka yang sekejap saja bisa jatuh menyedihkan? Ah, kasihan sekali mereka. Ah, lebih kasihan lagi aku yang mengasihani mereka.



Rabu, 04 Juli 2012

Darling, kiss me goodbye...

"Cium...
Cium aku!"

Itu yang dia katakan setelah lama dia menyimak kata-kata putus dariku, dengan terus menatapku dalam-dalam.

Aku tidak mampu berbuat apa-apa. Tidak lagi seperti dulu. Tidak lagi berhasrat menyatukan bibirku dengan miliknya, menyatukan hasrat kami. Tidak lagi memainkan lidahku dan menggigiti bibirnya saat lekat sekali kami berciuman. Aku hanya diam, membeku.
Bahkan matakupun tak lagi menangkap keindahan di lingkar bola matanya.

Dia mendekatkan bibirnya, menciumku. Mengecupinya dengan hangat, lalu melepasnya dengan dingin sekali.

Sempat kurasa gemetar putus asa di dalam manis hasratnya. Tapi tak ada yang dapat kulakukan. Tak kubalas apapun darinya.

Dia menciumi bibirku lagi, untuk yang terakhir. Lama sekali!
Aku tak bergerak. Lama sekali!

Lalu dia mengangkat wajahku. Dikecupnya kening, pipi, hidung, lalu kedua mataku. Seperti dulu.
Seperti dulu saat aku mengantarnya pulang di pintu senja.

Tapi, kali ini aku menangis. Aku menangis karena ini adalah untuk yang terakhir kalinya.
Dan tidak akan ada lagi nanti.
Tidak akan terulang lagi. Tidak akan ada cium-cium lagi!

Kami berpisah. Kami beda arah.
Kisah ini tidak akan berlanjut. Hutang-hutang janji itu tidak perlu lagi dilunasi. Karena kami sudah selesai!
Panggungnya sudah tertutup tirai, dan dramanya sudah cukup sekian.

Tapi...
Lukanya belum hilang. Sakitnya belum sembuh. Mungkin nanti. Akan ada obat penawarnya.
Untuknya.
Kuharap ia akan menemukan obatnya.
Sepertiku saat ini...
menciumi obatku.

(dan dengan tulisan ini, di edisi ke-3 ini aku officially punya pacar baru :D)



Sumpe' loh ini namanya zine?! #3

Selanjutnya, edisi ke-3 terbit. Masih tetap dengan gunting tempel gambar-gambar yang aku colong seenaknya dari mana-mana.
Edisi ini terbit tahun 2005 saat hidupku terguncang. Banyak hal. Keluarga hancur, kuliah gugur di tengah jalan. Tp sekaligus hobi menulis (zine salah satunya) membawaku pada karier menulisku hingga beberapa waktu ke muka.
Ternyata memang benar pepatah yang bilang, kalau mau pasti ada jalan.

Inilah titik balik hidupku saat itu. Sampai akhirnya bisa ada di sini hari ini :) Enjoy!

-kucuri hakku-

tak kunjung kutempuh aral ini
langkahku mengendap-endap
kuharap tiada bisik 'kan menoda
saat ini,
saat kucuri hakku!

caci maki telah melekat di kulitku
pula benjut merah pada rupaku
pada titik ini aku teraniaya...
walau aku menang,
aku merasa merdeka!

dan tanganku kian menggapai
mencari temuan pasti hidupku
dalam kedinian masaku,

kucuri hakku!



Tuhan-ku kemana?

Membuta hati, seribu doa telah hampa
Tak urung jiwa enggan terkekang sabda
Jari jemari saja tak lagi menyebut Tuhan
Berhenti saja!
Menari saja!

Senja pergi tinggalkan lumpuh ini
"Kita kemana lagi?"
tak mampu...
Menyesal sajalah!
Karena berterima kasih saja,
kita lupa caranya!

pendosa.


Rabu, 27 Juni 2012

Sumpe' loh ini namanya zine?

Zine kedua terbitan saya :) Sudah punya nama meskipun tetap saja sesuka-suka saya. Dengar saja, namanya adalah "Sumpe' Loh Ini Namanya Zine?" Hehe..

Saya pilih nama ini karena saya ga mau terikat sama aturan zine ini harus begini dan begitu. Lingkungan komunitas saya saat itu adalah lingkungan yang berani menyatakan beda itu istimewa. Jadi meskipun zine saya disebut tak guna, cuek aja.

Dari edisi kedua ini, saya mau share puisi untuk blog ini. Tentang ibu saya dan perjalanan rumahtangganya yang tak pernah mulus. Dan saya, adalah penonton setia teater kehidupan ibu saya. Sekaligus korban yang paling pertama hancur ketika kebahagiaan ibu saya lebur.


YANG DILAKUKAN IBUKU HANYALAH MENUNGGU...

yang dilakukan ibuku hanyalah menunggu...
dulu, sewaktu perawan ibu menunggu jodohnya datang
untuk meminangnya menjadi istri
karena usianya mulai menua
ibu tidak ingin membuat malu orang tua
Ibu bilang,
siapapun lelaki yang datang akan diterimanya
tak peduli siapapun dia, bagaimanapun dia

setelah menikah, ibuku hanyalah menunggu...
menunggu suaminya pulang dengan senyum yang dipaksa melebar
malam... tengah malam... menjelang pagi...
ibu menunggu dengan setia, dengan aku di rahimnya
Ibu bilang,
ibu menyesal menerimanya sebagai suami
bajingan itu menyakiti, menyiksa, menginjak-injak
dan meludah di atas harga diri ibu,
tapi ibu tetap menunggu lelaki itu memandangnya dua mata

aku lahir, ibuku tetap hanya menunggu...
menunggu aku dewasa agar deritanya habis atau setidaknya berkurang
bajingan itu tetap pulang subuh, tak sadarkan diri
memukuli, dan esoknya bilang "sorry"
tapi lagi-lagi ibu tetap menunggu
dengan berjuta harapan dan doa di sujudnya

Yang dilakukan ibuku hanyalah menunggu...
Jika aku mengamatinya terus, aku juga jadi menunggu...
menunggu ibuku bangkit dari penantiannya yang tak kunjung usai
Tapi...
Aku bosan menunggu! Tidak seperti ibu yang hanya menunggu...
Lalu aku pergi tidur, menunggu dalam mimpi.







posted from Bloggeroid

Zine saya

Jadi, dulu waktu masih aktif bekerja saya berhasil menerbitkan zine saya sendiri. Oya zine adalah lawannya magazine. Mm..bukan lawan sih, tp versi indie-nya magazine. Konsepnya hanya majalah personal yang dibuat dengan cara gunting tempel kemudian diperbanyak dengan cara di-fotokopi kemudian saya bagikan secara gratis ke orang-orang. That's it. Dan di zine pertama terbitan saya ini, saya belum punya nama. Jadilah zine saya ini hanya saya kasih tanda tanya besar saja di sampul depannya.

Karena bersifat personal, pada zine inipun saya bersenang-senang dengan kesukaan saya sendiri. Desain, isi, dan semua bergaya egois dan tak peduli apa kata orang. Tapi tujuannya adalah bergerak dan mewujudkan mimpi sendiri. Kalo nggak kita, siapa lagi coba? Haha!

Nah salah satu tulisan saya di dalamnya adalah puisi suka-suka saya sendiri. Yuk ah mari dibaca :)

WORDLESS

Bagaimana bila kumulai semua tanpa kata?

Saat ini, aku berharap kau membacanya dalam mataku

Karena kata-kata itu mengalir dalam air mataku

Maka bicaralah! Jawablah dengan bahasamu

Aku sedang bisu. Gagu!

Tidak terbeli olehku, rangkaian kalimat-kalimat,
serta tiada harta untuk kusampaikan dalam tawa

Aku sedang bisu

Bolehkah aku bicara dengan air mataku?



Senin, 11 Juni 2012

Finally..

So..I produced my own cotton pasmina :) The brand is jemaripelangi. But I still work on to modify it. Love.


Jumat, 01 Juni 2012

Bayu Hening,
Kisah Cinta Kesunyian
Oleh: Jemaripelangi



Tak kusangka akan menemuinya lagi hari ini, setelah kehilangan yang panjang. Kami tak jumpa selama 1 tahun, dan aku sibuk menata perasaanku lagi demi menjawab semua rindu yang tak terbantahkan di hatiku.
Dia, seorang yang (pernah) spesial untukku. Datang bertahun lalu. Ketika aku masih muda, hijau, segar, berselimut keresahan. Hari itu, sesampainya aku di kota itu. Kedatanganku adalah untuk melanjutkan hidupku sendiri, setelah riuh-gemuruh masa lalu bergelimang di tempat asalku. Adalah Frans, cinta pertama yang tali cintanya masih bergelung dan menggantung-gantung leherku. Kemanapun aku pergi, sejauh apapun jarak kutempuh, hanya namanya yang kuhembus. Hanya senyumnya di udara. Namun ia tak pernah ada.
Cinta kami ia tinggal berserakan. Karena setelah lulus sekolah, kami dipisahkan keluarga karena semua menganggap cinta kami tak mungkin untuk disatukan. Orangtua Frans tak restu bila Frans berhubungan denganku, yang terkenal berasal dari keluarga yang complicated. Sebaik apapun aku berusaha agar diterima keluarga Frans, gambaran rumahtangga orangtuaku yang berantakan tetap tak bisa diterima keluarga Frans.  Ia dipaksa melanjutkan sekolahnya di luar negeri. Dan aku tertatih. Sendiri memunguti sisa kekuatanku menapaki hidup.
Tibalah aku di sini, di sebuah kampus, alih-alih aku melanjutkan pendidikanku di sini, seolah demi cita-citaku, demi masa depanku, demi melupakan Frans yang entah bagaimana tak bisa kuhapus begitu saja. Pertemuanku dengannya, dimulai setelah langkah kebingunganku mulai membuntukan di kampus ini. Dia, Mas Bayu.
Tak ada banyak hal yang kuingat di perkenalan kami pertama itu. Laki-laki berambut gondrong, berwajah teduh itupun tak menyebutkan namanya. Ia hanya memberikan kartu namanya ketika aku selesai menanyakan padanya dimanakah tempat untuk mendaftar ke fakultas seni rupa. Bayu Hening, Cinematographer, demikian tertulis dengan tinta hitam di kartunya. Kata-kata terima kasihku hanya dibalas senyumnya yang indah.
Laki-laki yang kuperkirakan selisih usia 10 tahun denganku itu tak banyak bicara. Ia benar-benar hening, larut dalam kesunyian yang hangat di pancar matanya. Rambut gondrongnya keemasan, sedikit terbakar matahari. Mungkin ketika ia sedang bekerja di lokasi suatu ketika. Ia kelihatan sangat bijak, dewasa, dan aku suka gayanya yang santai. Matanya sedikit sekali kontak dengan mataku. Entah mengapa. Ia seperti berusaha menghindari tatapanku. Tapi malam itu, aku tidur memeluk kartu namanya. Apakah aku jatuh cinta? Akupun entah.

1 minggu perkuliahanku telah mulai. Hari-hari yang datar, masih pilu karena kisah cinta Frans. Masih saja kosong hatiku terasa tersayat. Lorong-lorong kampus yang kujejaki dalam bisu. Nanar yang tak berujung. Hingga tiba-tiba Mas Bayu menghentikan langkahku dengan suaranya yang menyambut hangat, “Apa kabar Adinda?”
Kuangkat tatapanku langsung pada matanya. Dan kali ini ia tak menghindar. Senyum, aku mulai tersenyum lagi. Kekakuan itu telah cair. Maka semenjak itu, nyaris tiada hari yang kuhabiskan tanpa hadirnya Mas Bayu. Kami menonton pertunjukan teater bersama, menghadiri seminar, mengerjakan proyek fotografi bersama, makan malam.
Hidup berjalan begitu saja, mengalir lembut tanpa derai menghempas. Tawa yang perlahan menyusuri lingkar hati, menyatukan aku dan Mas Bayu. Namun betapapun manisnya waktu bersama, aku tetap tak mengenalnya. Aku mungkin saja sudah bisa bangkit perlahan, tapi sosok Frans belum terganti apapun. Mas Bayu yang sangat dewasa itu tak pernah membuka tabir dirinya. Ia begitu rapi menutup identitasnya. Maka itu, aku tak pernah berusaha meraba lebih jauh. Mas Bayu yang selalu datang padaku adalah Mas Bayu yang hanya begitu saja, seada-adanya, bila di hadapanku. Mengertikah engkau?
Maksudku, Mas Bayu tidak pernah membicarakan hal lain bila sedang bersamaku. Topik kami hanya sekitar hal yang sedang kami jalani saat itu, tentang dia dan aku saat itu. Masa lalu, tadi, esok, masa depan, sama sekali tak pernah dibahasnya. Ia sangat hadir di setiap momen kebersamaan kami, tapi aku tak pernah tahu apakah dan bagaimanakah hidupnya di luar waktu kami.
Apakah salahku? Apakah semua ini karena aku sendiri? Aku bahkan tak mengerti apa yang terjadi pada hatiku, perasaanku. Aku hanya teramat bahagia bisa berada di sisi Mas Bayu. Aku amat senang bila ia datang dan menghabiskan waktunya bersamaku. Aku hanya amat merasa istimewa bila ia menggenggam jemariku dan menanyakan apa kabarku saat itu. Aku hanya teramat bungah bila ia selalu ada, menghapus kedukaan. Tapi apa terjemahan semua ini, aku tak tahu. Aku tak mampu menerka-nerka, karena sejujurnya ketakutan akan hal bernama cinta mengungkungku dan enggan keluar. Aku tak sanggup melepaskan diriku sendiri dari bayang masa lalu. Dan laki-laki ini, Mas Bayu, sama sekali tak peduli akan itu. Ia membiarkanku bingung dan tersesat dalam perasaanku sendiri.
Kadang aku merasa Mas Bayu mencintaiku. Tapi kepercayaan itu runtuh setiap kali ia memperlakukanku layaknya seorang adik. Ia dengan gaya santainya yang senang mengolok dan menggodaku. Kadang aku merasa ada cinta di setiap genggam jemarinya, tapi aku sudah tak percaya diri lagi di hadapannya. Buktinya, ia tak pernah memberitahuku siapa dirinya. Bahkan aku tak tahu, apakah ia punya kekasih di luar sana, ataukah mungkin ia sudah menikah dan istrinya tengah menunggunya di rumah, sementara ia di sini, makan malam denganku. Tiba-tiba aku merasa jahat, aku merasa Mas Bayu jahat.
Aku tak berani menanyakan hal-hal semacam itu. Aku menyanjungnya, betapa menghormatinya. Mas Bayu teramat baik, dan aku takut dianggap terlalu cerewet dan terlalu ingin tahu. Hingga suatu ketika, aku memutuskan untuk pulang ke kotaku. Ada masalah keluarga yang memang sulit untuk diurai. Yang membuatku tak punya pilihan selain pulang dan menghentikan kuliahku di tengah jalan. Yang melebur mimpi-mimpi, yang mau tak mau kulepas ikhlas.
“Boleh aku ikut ke rumah kamu?”
“Buat apa Mas? Hidup kami kacau di sana,” jawabku pada Mas Bayu. Ada kaget di air mukanya. “Sebaiknya jangan,” kataku lagi. Rambut gondrongnya dihempas, ia mengangguk-ngangguk dan membuang tatapannya jauh dariku, seperti dulu kali pertama jumpa.
Aku pergi. Berbulan-bulan. Kadang aku terima teks pesan dari Mas Bayu, menanyakan kabar sekedarnya. Permintaan kunjungan kadang terlontar, tapi selalu saja kutolak. Hidupku kacau di sini, dan aku hampir tak peduli lagi pada semua. Frans pun telah benar-benar pergi. Sampai suatu saat, Mas Bayu benar-benar memaksaku kembali ke kotanya. Bukan untuknya, bukan untuk pernyataan cintanya, tapi untuk sebuah pekerjaan. Dia memaksaku datang karena ada proyek videonya yang butuh sentuhan tanganku menata properti dan segala hal yang dipakai di video itu. Namun bersamaan dengan itu, Ibu sedang berencana menjodohkan aku dengan seseorang.
Maka inilah saatnya kami bertemu lagi. Aku telah menunggu di alamat  kantor yang ia kirim kemarin. Pakaianku kurapikan, wajahku kuhias sedemikian. Aku tak ingin ia melihatku berubah sedikitpun. Setelah tak sabar menunggu, hadirlah Mas Bayu di hadapanku kini. Genggaman tangannya sudah tak seperti dulu, dan di sampingnya sudah ada Miranda, produser kami yang ternyata akan menikah dengan Mas Bayu beberapa bulan ke muka. Aku yang semula semangat, lemas seketika. Tidak, aku tak hancur. Tapi hatiku menguap. Ada rasa dingin di hatiku, di dada, dan menjalar ke tangan dan muka, mengembun membuat air mataku menggembung tapi tak kunjung menitik. Senyum yang kupaksakan, turut senang akan kabar mereka.
Sepanjang menjalani proyek ini aku tak menemukan lagi tatap hangat mata sendu Mas Bayu. Tapi kadang aku mendapatinya sedang mencuri-curi tatapku dari balik meja kerja kami yang berseberangan. Jarak kami amat jauh kini, padahal kami amat lekat dulu. Ada Miranda sebagai dinding pemisah, yang membuatku tak bisa bermanja-manja lagi padanya. Sekarang Miranda adalah prioritas. Segala senyum dan momen saat ini adalah tentang Miranda. Mas Bayu tak pernah berusaha mencoba dekat lagi. Akupun berusaha seprofesional mungkin. Datang dan pergi dengan tak banyak bicara. Tak ingin membuat kesan yang terlalu dalam di sini. Bagaimanapun aku dan Miranda sama-sama perempuan, aku mengerti bagaimana perasaannya. Jadi tak perlulah rasanya aku menyeret-nyeret kisah lalu di ruang ini.
Maka setelah pekerjaan ini selesai, aku pergi. Maksudku, benar-benar pergi. Dari hidup Mas Bayu, dan dari masa lalu kami. Mas Bayu berhak bahagia dengan Miranda, begitupun aku dengan hidupku. Rencana ibuku terlaksana. Demi berbakti, aku menikah dengan laki-laki pilihan ibu. Beginilah hidup. Kadang kita memang tidak bisa menuntut banyak. Ini semua hanya panggung sandiwara, dan peranmu akan membawamu pada indah ketika waktunya tiba.
Makna itu kuresapi. Namun sayang aku tak sanggup menahan serpihan cerita ini sebelum aku benar-benar melenggang tenang ke masa depan. Dan perasaan itu tembus. Setahun tak berkabar, chat online mempertemukan aku dengan Mas Bayu lagi. Inilah saatnya, titik balikku menuju masa depan.
Bayu Hening: Selamat siang, apa kabar Adinda?
Adinda: Siang Mas, baik.

(Kami terdiam sekian lama. Bingung memulai)

Bayu Hening: Sibukkah? Aku ada proyek baru. Dinda mau join?
Adinda: Mm.. Sebaiknya tidak Mas.
Bayu Hening: Loh? Kenapa?
Adinda: Aku belum dapat izin dari suami untuk kerja keluar kota.
Bayu Hening: Apa? Kamu sudah nikah?

(Aku bisa membayangkan wajahnya terkejut di seberang layar sana)

Adinda: Iya Mas, aku sudah menikah dengan laki-laki yang dipilih Ibu. Maaf tidak mengundang.
Adinda: Bagaimana dengan Mas sendiri? Dan Miranda?
Bayu Hening: Tidak. Miranda selingkuh.
Adinda: Apa?? Yang benar Mas? I’m sorry to hear that.
Bayu Hening: Gapapa kok.

(Lalu perasaan itu memaksa keluar dari kotak di hatiku)

Adinda: Mas…
Adinda: Apa boleh perempuan bersuami jatuh cinta?
Bayu Hening: Hm, susah jawabnya.
Adinda: Tentu bukan cinta yang menginginkan fisik, bukan cinta abg yang selalu ingin menyentuh. Bukan. Bukan itu. Tapi cinta yang artinya lebih dalam.
Bayu Hening:  Ya, sebenarnya rasa cinta itu kan manusiawi. Lahirnya karena rasa kagum. Masalahnya kamu sudah menikah, sudah ada suami yang lebih berhak mendapat perhatian penuh dari kamu.
Adinda: Jadi salah ya? Tapi rasa di hatiku, cinta atau apalah namanya, tidak menuntut apapun.
Bayu Hening: Apapun alasannya kamu suka pada orang ketiga, tetap saja penilaian orang akan buruk dan salah secara umum.
Adinda: Jadi ga boleh ya?
Bayu Hening: Aku nggak bisa menilai dengan kata boleh atau tidak boleh. Siapalah aku ini.
Adinda: Kalau nggak boleh, mungkin ini akan menjadi live chat kita yang terakhir untuk selamanya.
Bayu Hening: Maksud kamu?
Adinda: Iya, karena aku sayang Mas Bayu. Aku sayang Mas Bayu sudah sejak lama dulu.
Adinda: Tapi aku nggak pernah punya keberanian untuk bilang ke Mas Bayu. Ada bunga yang selalu mekar tiap kali ketemu Mas Bayu. Aku bahagia kalau ketemu Mas Bayu. Dan aku merasa bersalah telah melewatkan Mas Bayu di kehidupanku.
Bayu Hening: Woow! Kamu jangan gitu, ah. Kamu fokus sama keluarga kamu aja.
Adinda: Iya, pasti. Setelah inipun aku pasti akan lebih konsen lagi ke suami dan keluargaku.
Bayu Hening: Ya, aku paham.
Adinda: Aku juga ga menuntut apa-apa, nggak mau merubah yang ada. Aku cuma mau Mas Bayu tau yang sebenarnya aku rasa.
Adinda: Lagipula cinta itu rezeki, dan rindu ini indah sekali. Aku nikmati sendiri sambil dengar musik dan jatuh cinta lagi pada memori.
Adinda: Kalau Mas Bayu nggak terima, ya aku minta maaf. Makanya aku bilang mungkin ini akan jadi live chat terakhir karena kemungkinan aja penilaian Mas Bayu berubah, seperti yang tadi Mas Bayu bilang.
Bayu Hening: Aku nggak berubah dan aku nggak berhak menilai kamu atau siapapun.
Adinda: Dulu aku merasa tidak pantas untuk cinta Mas Bayu, tapi akhirnya sekarang aku tau mengapa ditempatkan di sini sekarang sama Tuhan. Cukup aku dan Tuhan yang mengerti semua ini.
Adinda: Aku yakin Mas Bayu semakin tumbuh bijak sekarang. Maafkan aku.
Bayu Hening: Sebaiknya kamu mencurahkan kasih sayang kepada suami kamu, karena keluarga akan membawa keberkahan dan kebaikan yang abadi.
Adinda: Iya, pasti kok! Pasti aku akan mencurahkan semua hanya untuk mereka. Sekali lagi, aku tidak menuntut apapun Mas, atau meminta Mas Bayu melakukan sesuatu.
Adinda: Berharap Mas Bayu membalas pun tidak. Jejak langkah yang Mas Bayu tinggal di hatiku teramat manis. Aku nggak mau merusak apapun.
Bayu Hening: Adinda, aku terimakasih kalau kamu ternyata memahami saat yang aku alami pada masa itu. Akhirnya aku mendapat jawaban atas perasaanku saat itu. Dan aku terima kasih karena kita kemudian bisa menjadi sahabat.
Adinda: Saat yang Mas alami saat itu? Jawaban? Maksudnya apa Mas?
Bayu Hening: Aku doakan semoga kamu dan keluarga selalu bahagia.
Adinda: Keliatannya ini akan benar-benar menjadi chat yang terakhir ya.
Bayu Hening: Aku nggak mau memikirkan yang sudah lewat. Aku cuma ingin ke depan lebih baik. Tapi kenapa kamu mau membahas tentang ini sekarang?
Adinda: Karena tidak semudah itu menghapus semua ini. Justru aku ngga mau melukai Mas Bayu karena pengakuanku ini. Aku yang tidak pantas. Perasaan cinta inipun untukku sendiri, kunikmati sendiri, sebagai penghibur, kadang pencipta senyum. Aku akan biarkan dia tetap ada di sudut hati.
Bayu Hening: Jawab jujur, Dinda.
Adinda: Karena aku sayang Mas Bayu. Aku butuh perasaan ini agar tetap hidup dan yakin hidup ini indah, meski hanya kenangan sekalipun.
Bayu Hening: Baguslah kalau memang benar tidak ada apa-apa.
Adinda: Memang. Dan aku berdoa hanya maut yang akan memisahkan aku dengan suami. Aku nggak mau lagi kehilangan cinta.
Bayu Hening: Ya memang ada waktu dan saatnya seseorang membuka apa yang dirasakannya. Aku hargai itu.
Adinda: Aku hanya mau bilang Mas Bayu adalah momen termanis dalam hidupku. Tapi akulah yang mengecewakan, akulah yang salah mengartikan perhatian Mas Bayu. Itu yang paling aku sesali.
Bayu Hening: Aku datang karena aku merasa mampu. Kalau akhirnya diabaikan ya, apa boleh buat. Itu bagian dari apa yang kita rasa mampu ternyata belum tentu bisa diterima orang lain.
Adinda: Maksudnya?
Bayu Hening: Ah nggak, lupain aja.
Adinda: Mas Bayu tau nggak kapan penyesalan ini mulai membunuh aku pelan-pelan?
Bayu Hening: Kapan?
Adinda: Semenjak ada Miranda. Itu masa terburukku.
Bayu Hening: Loh, kenapa? Apa aku kelewat nggak peka?
Adinda: Bukan cemburu, tapi penyesalan yang kelewat terlambat. Karena aku sibuk memikirkan, kenapa dia yang Mas bayu pilih dan bukan aku.
Adinda: Sama aku aja, Mas Bayu nggak suka. Kenapa perempuan ini yang Mas Bayu pilih. Berarti aku memang nggak pantas.
Bayu Hening: Dinda, aku mau tanya. Kamu boleh jawab atau kamu nggak mau jawabpun, nggak masalah.
Adinda: Apa Mas?
Bayu Hening: Waktu pertama kali aku ketemu kamu, apa kamu sedang punya hubungan dengan orang lain?

(ASTAGAAA! Frans! Dia menanyakan tentang Frans!)

Adinda: Ya Mas, sedang. Tapi nggak jelas. Itu adalah sebuah hubungan yang tak mungkin bisa dilanjut kemanapun.
Bayu Hening: Masih ingat nggak terakhir aku ketemu kamu saat itu?
Adinda: Selasar Aksara?
Bayu Hening: Ya ya, ternyata ingat ya.
Adinda: Mas Bayu pasti di situ sakit banget karena aku ya?
Bayu Hening: Apa saat terakhir itu, kamu masih sedang ada hubungan dengan orang lain?
Adinda: Mas..maafin aku. Saat itu aku di persimpangan. Aku nggak tau apa yang kita berdua sedang jalani. Malam-malam dengan genggaman tangan, sementara aku masih terikat kata cinta dengan seseorang yang aku nggak tau ada di mana. Aku tersia-sia. Dan karena Mas Bayu juga tidak menyatakan apapun, aku merasa semakin nggak pantas. Buat apa aku berada di sana, semua serba nggak jelas. Jangan-jangan aku malah hanya menyulitkan Mas Bayu. Aku takut.
Bayu Hening: Aku bukan tipe laki-laki yang pandai merayu dan banyak bicara. Aku cuma melakukannya karena aku merasa ada "rasa dan niatan". Bukan cuma ingin pacaran. Aku berusaha mendekati kamu dan aku paham, kamu dingin menanggapiku. Kamu ada, tapi fikiranmu seperti tidak bersamaku. Jadi, terakhir di Selasar itu, aku yakin bahwa aku nggak bisa meraih kamu. Semua seperti mimpi.
Adinda: Tapi justru detik-detik itu yang paling menyakiti aku. Aku nggak ingin pergi, tapi seperti tidak diinginkan di situ.
Bayu Hening: Mungkin kamu nggak merasa bahwa akupun tetap mencari sosok Adinda yang kukenal di pelataran kampus dan yang terakhir kutemui di Selasar. Tapi sekian lama mencari, Adinda itu sudah tidak ada kabarnya lagi. Langkah itu aku hentikan.
Adinda: Sejatinya aku nggak dingin seperti yang Mas Bayu bilang. Hidupku amat komplikasi saat itu. Keluarga yang tidak kondusif. Kisah cinta yang digantung-gantung. Hidupku hancur saat itu.
Bayu Hening: Miranda, sangat cemburu sama kamu. Aku pernah cerita tentang siapa kamu. Mungkin alasan itu juga dia pergi menyelingkuhi aku. Aku memang nggak bisa ngomong kata'sayang' tapi aku melakukan apapun karena aku punya rasa itu, buat kamu. Kalau di mata kamu saat itu aku nggak acuh, bagaimana dengan permintaanku waktu aku minta ke rumah kamu. Kamu nggak pernah izinkan kan? Yaa..aku tau dirilah.
Adinda: Bukan gitu Mas. Saat itupun aku seperti dalam pelarian. Aku sendiri enggan pulang. Rumah bukan tempat yang menyenangkan untukku saat itu. Dan aku nggak mau Mas Bayu tau tentang betapa buruknya hidupku.
Bayu Hening: Sayang aku waktu itu ke kamu benar-benar tidak kenal kondisi keluarga kamu.

(Aku kelu. Jari-jemariku kaku. Ada air mata, hangat berderai di pipi demi menatapi jawabannya di monitor. Aku terluka, kian menganga. Mengetahui semua ini amat membakar jantungku)

Adinda: Tapi..Mas Bayu nggak pernah tanya tentang hatiku. Mas Bayu nggak pernah bilang bagaimana perasaan Mas Bayu padaku. Aku butuh kebenaran. Aku cuma lihat Mas Bayu adalah orang yang sangat bebas. Datang dan pergi, bicara dan bertingkah sesuka hati. Aku pastilah bukan pilihan.
Bayu Hening: Memang selama kamu jalan sama aku, apa kamu nggak lihat kelakuanku yang seperti orang serba salah? Aku salah tingkah tiap kali tangan kita bersentuhan.
Adinda: Seperti orang yang serba salah? Perasaan aku diledekin terus selama jalan? Aku jadi merasa kaya anak ingusan. Makanya aku nggak berani bilang. Aku seperti cuma bahan lelucon, sekedar angin lalu.
Bayu Hening: Aku kehilangan kamu dan saat kamu kembali, aku melihat kamu bahagia. Kamu pergi. Dan kamu bisa lihat juga aku ditinggal Miranda. Jadi tidak ada yang salah kecuali diriku sendiri. Untung saja, Tuhan nggak membuatku jadi gila.
Bayu Hening: Aku bukan orang bebas seperti yang kamu ungkap tentang aku tadi. Aku cuma nggak mau terpuruk dan terjatuh terlalu dalam pada hal yang tidak mungkin aku jalani.
Adinda: Aku minta maaf. Aku rindu. Dan aku senang menangis karena rindu ini. Terima kasih untuk semua kenangan manis itu.
Bayu Hening. Berbahagialah, Adinda, selalu.
                Room chat kututup. Aku klik sebuah nama: Bayu Hening. Aku klik kanan, mencari letak sebuah perintah: DELETE. Komputer ku-shutdown. Kusongsong suamiku pulang. Cinta merah jambu, terbingkai abadi. Menyala manis, selamanya tak berbalas.(*)
        
























*Aku paham cerpen ini masih butuh revisi. Sabarlah menunggu. Terima kasih.













































  





Kamis, 31 Mei 2012

Democrazy's Story

Ketika tawaran menceritakan sejarah Democrazy disampaikan Hera dan Roel Riot pada saya, saya langsung mbungah. Perasaan senang melanda seketika. Tapi di tengah cengar-cengir mengingat wajah-wajah personil Democrazy, saya ngilu, karena hampir setengah kisah Democrazy telah mengembun di benak saya. Tapi ya, goresan Democrazy masih tetap berada di sana, selamanya.

Lalu saya coba membuka buku harian saya di tahun 2003, kemudian perlahan merunut lagi bagaimana Democrazy itu bisa ada. Bermula di tahun 2000an, sekumpulan anak-anak muda Ciracas (Jakarta Timur) membentuk band yang memang sejak awal sudah dinamakan Democrazy. Memainkan lagu-lagu Rykers dan sejenis, kebanyakan. Lalu bass playernya, Ferdian mengajak saya masuk di band tersebut. Ketika itu saya masih sekolah SMK. Saat itulah era baru Democrazy dimulai. Satu persatu formasi awal Democrazy berganti seiring perubahan gaya musik yang kami bawakan. Beat-beat Ryker’s bergeser menjadi Warzone, Ignite, Sick of It All, Project X, dan akhirnya Shutdown. Ketidakcocokan kesukaan pada jenis musik ini, hanya menyisakan saya dan Ferdian di Democrazy.

Lalu takdir mempertemukan kami dengan Xigit, gitaris asal Ciledug yang saat itu sedang kuliah di Univ. Pancasila. Kami terikat dalam rasa dan akhirnya menjalani prinsip hidup sehat bersama. Xigit adalah gitaris yang sempurna untuk Ferdian yang selalu lupa grip gitar. Dan Xigit adalah teman tandem yang sempurna untuk saya. Kami bisa gila bersama di atas panggung, berjingkrak, teriak, dan melompat ke penonton adalah momen-momen yang saya dan Xigit nikmati. Posisi drummer terus bergulir. Rama Bonges, drummer dari band Inner Struggle pernah membantu kami di gig Jakarta Bersatu I. Dan akhirnya, penantian kami sampai pada sosok Gofar, yang saat itu juga menjadi drummer Social Distrust, band punk Manggarai (Jakarta Selatan). Saya, Xigit, dan Ferdian menjalani straight edge, sedangkan Gofar tidak. Tapi semua itu bukan masalah. Sama sekali tidak menjalani kendala. Kami enjoy bersama.

Sejak 2002, Democrazy sudah mulai banyak main dimana-mana. Di Fortuna Little Hell (Tangerang) tepatnya tanggal 9 Maret 2003, tapi maaf lagi, saya juga lupa apa nama gignya. Hehe.. Juga salah satunya di Care and Respect gig tanggal 25 mei 2003 di jakarta Barat. Pada 25 Nopember 2003, kami recording untuk album ep pertama kami yang dirilis oleh record label yang Gofar kelola sendiri, New Heaven Rec. 6 lagu dengan beat musik cepat dengan suara cempreng saya. Kebanyakan berkisah tentang straight edge, dan beberapa cerita tentang perempuan dan cinta. Saya bangga, semua personil saya yang laki-laki tulen (hehe..) mendukung saya dan tidak pernah memperlakukan saya dengan berbeda. Saya menyayangi mereka seperti mereka selalu ada untuk saya.

Lalu besoknya, 26 Nopember 2003, Democrazy main di Having Fun Isn’t Sin gig. Ada Tanpa Batas, Reprobate, The Swift, Blue Flag, dan mereka semua adalah sahabat terbaik kami. Orang-orang yang sangat berarti untuk kami saat itu hingga saat ini. Democrazy juga pernah main di luar kota. Di Surabaya, kami main di We Stay Here With Pride gig tanggal 28 September 2003. Bersama teman-teman Dinoyo Youth Crew dan SBHC Kids. Juga di Yogya, tapi mohon maaf sujud sungkem, saya lupa nama event dan tanggalnya. Tapi bila saya tidak salah, lokasinya adalah di Bunker Café, dan kami menginap di rumah Brother Eic di daerah Timoho. Di sana saya kenal xIpheyx, Mbak Venus, Titan Revolt (Bogor), Mas Joko “Jembut”, Mas Gufi, dan saudara-saudara lain yang amat mengesankan hati saya. Saya pribadi, sungguh jatuh cinta pada Yogya, dan momen ini adalah salah satu pemicu utamanya. Ke Yogya, artinya sama dengan pulang, buat saya.

Kami pernah juga ikut urun di kompilasi Flower’s Compilation terbitan Klorofile Rec milik Andi Bagol (IISIP, Jakarta). Dalam kompilasi itu juga ada Heaven’s Fire, Punxtat, In Her Embrace, Keep On, Injustice, Total Confused, BTS, Skinny Dolls, dan Vortex Motion. Dan masih bersama perempuan-perempuan hebat ini, Democrazy juga ikut hura-hura-hore di Bleeding Sister gig yang diadakan di Bug’s Café, Jakarta, tapi saya lupa tanggalnya. Hm..embun-embun menguap di kepala saya. Kenangan manis ini membawa saya pada HardFest gig (sepertinya yang pertama saat itu) yang sepertinya adalah gig terakhir untuk Democrazy, untuk kami. Selanjutnya kami berpisah, kehidupan memisahkan kami dengan kesibukan dan sejuta alasan. Kalau tidak salah, Hardfest gig tahun 2005 adalah gig terakhir Democrazy, sebelum akhirnya berdiam diri sampai kini.

Kami tidak menyesal sama sekali. Berada di komunitas ini adalah sebuah kepingan kebahagiaan dalam hidup kami masing-masing. Karena ini bukan hanya tentang musik, tapi lebih luas lagi daripada langit semesta. Ini tentang jati diri, pertemanan kemudian menjadi keluarga, menggila di panggung, tentang semangat mandiri, tentang pilihan menjalani gaya hidup sxe, dan saling menginspirasi. Democrazy adalah masa yang manis dalam masa muda kami. Dan pada akhirnya, saya mewakili Ferdian, Xigit, dan Gofar berterimakasih pada teman-teman semua, memeluk teman dan saudara sekalian yang selalu mendukung Democrazy. Tidak akan pernah kami melupakan kalian semua. Tempat kalian di hati kami, selalu.

Terima kasih. Big thanx to: Behind Tha' Revo, Social Distrust, Inner Struggle, Snacky, Jembatan Merah Punx, Suropati Kids, Ciracas Youth Crew, SBHC, YKHC, Revolt and Raincity HC, Depok HC Kids, Ika dipepi, dan semuanya yang akan selalu mengiring jejak hidup kami.

Inspirasi tiada henti: Straight Answer, Tanpa Batas, Garis Lurus, First Of All, Lost Sight, Strike Back, dan banyak nama lagi yang akan selalu menghangatkan hati kami, you know who you are, lotsa thanks.

Kamis, 10 Mei 2012

Me, I am.

I may not supa-dupa active like you. I may not working as hard as you do.

Cuma karena katup jantungku dibuat bekerja untuk lebih perlahan oleh Tuhan. Karena Ia tahu bagaimana kerasnya aku dulu, bekerja sedemikian lelahnya untuk bertahan hidup sampai ke titik ini.


Saat ini, aku mungkin belum menghasilkan materi sebanyak yang kau dapatkan. Aku memang tidak populer dan terkenal hebat seperti dirimu. Engkau dengan celoteh dan nyanyianmu yang begitu renyah di telinga siapapun. Engkau dengan tingginya dirimu, menjulang mengalahkan lapisan langit dan lembayung.


Tapi aku punya Guru Milang, yang sempurna mencintaiku. Aku punya Ganeshauman yang terlahir dari rahimku dan tumbuh menjadi anak cerdas dan sehat. Aku punya bapak dan ibu yang terikat erat dalam keagungan cinta.

Aku punya om dan tante yang selalu ada untuk menyediakan tawa bersama. Aku punya sepupu-sepupu yang melingkariku selalu.


Aku punya pagi yang tak tergesa dan aku masih sempat menari dalam sudutnya. Aku punya bangga ketika bersepeda mengantar Ganeshauman sekolah, menyusuri melodi memulai hari. Tak ada tekanan sama sekali dan aku tak perlu diperintah orang lain atau siapapun. Aku merdeka. Dan hanya Tuhan yang berhak atasku.


Aku punya siang yang menyenangkan kulewati dengan banyak aktifitas yang kusukai. Aku bebas memasak bersama kicau burung pagi, membuat kue dan gula-gula di dapur manisku sendiri, aku bebas menulis kisah cinta di sore hari, dan membacakan dongeng imaji kepada anakku ketika Guru Milang, kekasih kami pulang menjemput rindu dan menutup tirai penantian.


Aku percaya jalanmu tak perlu kulewati. Dan akhirnya aku mengerti mengapa kita harus berseberang jalan. Karena aku bahagia di sini. Dan engkau mendapatkan bahagiamu di sana.


Aku punya kantor, pekerjaan dan upah keberhasilanku sendiri. Tugas kita masing-masing berbeda. Bayaran kita masing-masing tak sama. Aku mengurus dan menjadi guru sepanjang waktu untuk anakku. Aku menyiapkan makan dan nutrisi dan menyempurnakan lipatan seragam kerja suamiku, agar ia bekerja sempurna mencari nafkah untuk kami. Aku bersenang-senang dengan rumahku yang bersih dan kutata dengan apapun yang melegakan hati. Aku bekerja keras, dengan caraku, dengan penghasilanku yang mungkin tak menyerupai materimu.


Dan bila tiba waktuku, bila harus merubah tarian rutinku, aku yakin itu adalah keinginan Sang Pemilik Nafasku. Ini adalah sandiwara dan dunia peran sampai nanti Dia ingin kita berpulang. Kau pun hanya menjalani peranmu. Tapi aku, tak akan menangisi diriku demimu. Aku akan mengecup matahari, dan memeluk bulan. Aku mencintai pekerjaanku di sini, yang nyaris tak terlihat, tapi sedikit istirahat. Aku mensyukuri kontrak kerjaku dari Tuhan, yang nyaris tak terperhatikan, namun aku selalu ada bila dirasakan.


Aku punya penghargaanku sendiri. Lebih dari kata-kata kebanggaanmu. Ini semua cuma titipan. Seberapapun kau banggakan. Seberapapun kujalani dalam berdoa dan harapan. Because it's me, I am.(*)


Published with Blogger-droid v2.0.4

Minggu, 06 Mei 2012

Trial and error rainbow cupcakes

Ada kesalahan dalam pembuatan cupcakes ini. Aku terbalik menata warna adonannya. Seharusnya merah-oranye-kuning-hijau-ungu. Tapi aku terbalik menempatkannya, merah di bawah. Harusnya merah di atas. Ngerti kan? Haha..

Tapi gapapa. There's always trial and error. Kalo ga salah, aku ga akan tau gimana cara menyusunnya dengan benar :)


Published with Blogger-droid v2.0.4

Quote for today

Allah saja yang merawat hak-hakku #majalahAulia


Published with Blogger-droid v2.0.4

Quote for today

Allah saja yang merawat hak-hakku.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Selasa, 07 Februari 2012

Antara mimpi dan dejavu. Imaji atau memori?

Kubuka lagi dua belah mataku entah untuk yang keberapa kali. Kutarik nafas panjang dan membuangnya ke segara kebisuan ruangku. Waktu telah berjalan hingga pukul lima pagi ini. Aku tetap gagal mencoba pulas tertidur. Buku di tanganku telah habis kulalap, buku bertitel “Penafsir Kepedihan” milik Jhumpa Lahiri itupun terkulai menutup di balik selimutku.

Tadinya aku berharap bisa merasakan nikmatnya tidak menyadari bahwa pada suatu ketika aku sudah lelap bermimpi. Tapi, apa yang kurasa saat ini malah menyiksa seluruhku. Berdoapun sudah tiada berarti lagi!

Aku bangkit, mengelinting “kotoran” dalam balutan sutera putih, yang di ujungnya runcing untukku bakar. Satu tanganku yang lain menekan tombol pencipta irama, dan mengalirlah musik usungan band cadas legendaris dari Bandung, Puppen di seluruh jagat raya. Khalayak ramai ber-pogo ria di dalam telingaku. Tapi mata, kepala, dan otakku tetap diam. Tak bergerak, dan tetap kosong.

Dua linting “pocongan” kecil habis dan menyisakan kelabu di awang-awang, kadang aku malu mengakui kalau aku sesak menghisapnya. Sesaat kemudian pita hitam Puppen pun telah habis terputar.

Di depanku ada wajah seseorang. Ooh… itu wajahku rupanya! Aku tengah bercermin detik ini. Mataku menatap langsung pada rongga matanya. Merah! Mabuk! Tapi tetap sadar! Kubuka lebar mulutku, menanyakan siapa dia, tapi tidak ada jawaban.

Dan lebih bodohnya, wajah di cermin itu malah mengikuti tiap gerakan mulutku, tiap kedipan mataku, mengikuti perputaran bola mataku. Akhirnya aku mengalah, tepatnya hatiku yang mengalah. Hatikulah yang menanyakan identitas itu kepada ruhku, dan pelan-pelan aku mulai meraba jawabannya…

“Aku adalah orang yang kuat, aku berdiri di atas bayang-bayangku sendiri, dengan tulang-tulang dan daging yang saling berpelukan dalam satu tubuh. Dengan otak dan pikiran yang melahirkan prinsip-prinsip kuat sepanjang hidupku. Jiwa dan hatiku mengatur hidup dan menguatkan kakiku ‘tuk melangkahinya.

Di daun telingaku, bergelayutlah empat logam besi menjepit, dan di dalam rumah siputku bergumullah musik-musik tidak lembut yang selalu setia mewakilkan keakuanku. Serta, di punggung kiriku terlukis dengan indah tribal hitam-merah yang bercinta di pori-pori kulitku. Setidaknya aku berkuasa atas raga srikandiku ini.”

“Aku adalah manusia yang punya harga diri, walau kadang aku menemukannya berada di bawah. Tapi aku tetap punya harga diri yang sangat bernilai artinya. Angkasapun tak ‘kan mungkin menang dariku.”

Sejenak aku merapat pada cermin dihadapanku. Mataku memicing. Mendapati sesuatu, entah apa itu. Kalbuku membisiki, ach..air…APA?! Ada dua titik air di ujung mataku. Rasanya hangat, tenang. Lalu tumpah mengalir ke bibirku, aku sempat menelannya hingga kuputuskan untuk menghapusnya dengan telunjukku.

Aku tidak berniat mengamatinya, hanya saja aku secara sadar atau tidak, meletakkan butirannya di dadaku, tepat di permukaan kulit pembatas dinding jantungku. Berdenyut sebentar untuk kemudian hilang bergetar. Lalu memoriku menganga. Tiba-tiba saja kunjunganku ke sebuah gig beberapa bulan lalu terputar kembali. Layaknya episode kisah sinetron, semua tampil di pentas ingatanku…

Aku tenang hari itu, semua biasa saja, sampai sebuah kharisma mengitari nafasku, saat itulah aku percaya dia sangat istimewa. Dia berdiri sendiri, menatap langkah kakinya di depan, mulutnya terkunci tanpa tersenyum, hidungnya menjulang di sisi pembaringan Tuhan, dan rambutnya ikal diikat, sisanya keriting menjuntai tak beraturan.

Emas.. diseluruh tubuhnya berpendar. Setiap yang melukisnya akan berharap memeluk. Tapi dia tidak ingin. Dia tetap mempertahankan ketidakmampuannya sendiri. Dia tidak memperjuangkan sesuatu untuk memenangkan indahnya gejolak. Dan tanpa dia ketahui, dia juga telah membiusku perlahan.

Aku memang tidak pernah kontak langsung dengan matanya, aku juga tidak pernah menyalami tangannya, tapi aku tahu pasti…dia begitu hangat seperti sinar mentari di pagi hari, sekaligus dia dingin sedingin gunung es yang mengeksekusi Titanic sekalipun.

Aku mendambanya, aku berangan dia menerima sesuatu, atau paling tidak dia rela menitipkan untuk sekejap saja menoleh dan mengabadikan senyumnya padaku. Tapi, tidak ada! Jangankan berlutut di air mukaku, menyadari kehadirankupun, omong kosong! Percayalah... dia tetap sehangat mentari pagi, dan dia tetap sedingin gunung es.

Aku merasa bagai jarum penunjuk detik di antara bilangan-bilangan waktu. Aku tipis, aku ada, tapi tidak berpelangi di sayapnya. Aku berusaha menguatkan jiwaku. Meski terguncang hebat, aku mendarat kembali di kehidupanku. Berhari-hari, berbulan-bulan, hingga terhenti pada suatu senja….

Matahari meredupkan sinarnya, berpamitan pada anai-anai berukiran rapuh. Aku mereguk hangatnya sebelum dia benar-benar pulang. Lalu, berganti kehadiran bulan dan bintang-bintang di syahdunya malam hari. Bulan yang buta, layaknya keteduhan tatapan yang tak menangkap sosokku, dan gemintang yang bisu, layaknya ketidakpedulian kata-kata yang tak diperdengarkan padaku.

Aku mengingatnya. Terlebih lagi, aku merasa kesakitan karena aku memuja dan mengaguminya. Ternyata pesonanya menyeruak keluar, memberontak dari kotak hitam kecil di sudut hatiku. Jelas sudah, selama ini dia tetap berkobar di hatiku. Dia tetap menyelimuti nafasku, “aku jatuh cinta!!” Ya, aku jatuh cinta, Jaa..tuuh…cin..taa.. Jaaaa…tuuuuh…ciiiiiiinn..ttaaa….

Sayangnya, hingga aku lelah bercerminpun, aku tidak memilikinya. Aku tidak menggenggam wujudnya. Aku pernah menceritakan hasratku lewat embun pagi kemilau yang menyegarkan, bahwa aku sangat mengaguminya.

Tapi, embun pagi menguap habis bersama demam di seluruh penjuru dunia. Aku sangat menyesal telah mengobrak-abrik tatanan hatinya, tapi kemudian aku merasa ragu berkepanjangan. Karena dia tidak bergeming tanpa pernah menyakitiku, menyalahkanku karena menodai kesucian asa.

Aku tetap seperti ini. Aku tetap tersiksa tak berusaha menggapainya. Aku sekarat tanpa pernah mengecupnya. Tiada daya, tiada upaya. Aku mencintainya seperti ini. Dengan tanpa merusak dirinya, tidak bersatu dalam hidupnya. Kecintaan ini tetap maya, tetap kekal, bagai kematian yang sejati.

Berharap tidak terbakar di sinar matanya, karena aku mencintainya dengan bebas, ringan, tidak luka, tidak berdarah. Entah dimana kisah ini akan habis. Hanya biarkan saja aku nikmati nyeri ini. Dalam! Tinggi! Membumbung ke nirwana dewa. Hingga saat ini, gig yang ke-sembilan puluh dua kali kuhadiri…. Dan cinta itu tetap terbang mengitari langkah bekunya, tanpa aku pernah tersenyum padanya.
…….

P.A.T.A.H


HOW DOES IT FEEL TO BE ALL BY YOURSELF?

Saya sedang patah hati. Perasaan saya sedang berantakan. Kacau! Pikiran saya mumet, ‘njlimet. Tidak bisa tidur, padahal saya harus bangun pagi-pagi untuk beraktifitas esok hari.

Tiap kali “kosong,” sosoknya selalu datang. Bayangannya mendekap memori saya erat hingga sayapun selalu gagal mencoba melupakannya. Terlebih lagi, “Heaven” baru saja dilantunkan Bryan Adams, dan kemudian dilantunkan ulang versi DJ Sammy, kenangan sayapun kembali pada detik-detik lagu itu kami lantunkan berdua. Dia dengan petikan gitarnya dan saya dengan nyanyian yang kini menyayat hati.

Sebegitu kuat saya melawan, sebegitu dalam saya makin terluka. Saya sangat ingin melupakannya! Benar-benar sangat! Saya ingin hentikan derai air mata ini! Saya ingin tersenyum lagi setelah tangisan panjang yang pilu ini! Saya ingin berlari lagi setelah seretan langkah saya kian tersuruk-suruk kini!

Ini adalah yang pertama. Ya, ini kali pertama saya putus cinta. Putus cinta dalam arti kata sebenarnya. Karena putus cinta yang kemarin-kemarin itu hanyalah butiran-butiran pasir di laut. Tiada artinya. Tidak sedalam yang ini. Mungkin karena usia percintaan ini sudah kedalon, tiga tahun bercinta membuat kami saling mengenal, mencinta dan menyayang luar dalam. Itulah sebabnya saya tulis ini dalam insomnia saya yang melelahkan.

Saya mencoba mencari tempat lain, titik lain, setidaknya sebagai sandaran agar saya bisa bangkit dari kerapuhan saya. Mencari nama-nama yang dulu mencari saya untuk mencinta. Bolehlah saya disebut pelarian. Tapi untuk saya, ini adalah usaha untuk menguatkan kembali langkah kaki saya yang tersendat dan justru mundur.

Saya begitu mencintainya. Saya begitu memilikinya, tapi saya tidak ingin melanjutkan lagi kisah menyedihkan ini dengannya. Disana tidak ada lagi keindahan, hanya tersisa sedih yang tak habis-habis. Haruskah saya terus menerus bercinta dengan kedukaan? Tapi, berdosakah saya yang meninggalkannya sendiri dalam keterpurukan hidupnya?

Kadang saya merasa tidak ingin pergi darinya karena saya tidak bisa memaafkannya yang telah merenggut hidup saya. Sebuah nafas hidup saya yang seharusnya saya banggakan satu saat nanti. Kami memang bersalah, kamilah penghuni nerakaNya. Jadi, bagaimana? Haruskah saya berpisah dengan orang yang dengan bersamanya saya memanjati puncak dunia? Saya takut pada rasa penyesalan saya yang besar sekali. Saya takut pada ketakutan saya sendiri. Dan saya tidak tahu bagaimana caranya agar saya berani melepasnya.

Musik-musik sedih yang saya putar untuk mendukung suasana ini, membawa saya mengingat masa kecil saya. Masa muda, tidak kenal cinta. Tidak mencintainya. Hanya saya dan orang-orang baik yang memeluk saya saat saya perlu, tanpa syarat bercinta. Saya merindukan mereka.

Apakah mereka tahu saya butuh mereka? Apakah mereka masih pedulikan saya? Karena saya jauh mencintai mereka dan kenangan-kenangan manis itu daripada cinta saya. Kemana perginya mereka? Tak lagi kirimi saya kabar berita.

Tinggal nama orang itu. Orang itu lagi! Hanya orang itu. Walau dia sedang sakit hati, walau dia juga pergi, tidak lagi disini, saya ingin sekali berbicara dengannya. Berbicara saja, tidak usah ada juntrungannya. Cerita-cerita saja, jangan ada akhir dan titik habisnya.

Lalu tiba-tiba saya merasa salah besar! Dia juga sudah pergi. Entah ke langit lapis berapakah ia. Saya jadi sendiri. Benar-benar sendiri. Tinggal saya dan (masih) musik-musik sedih ini, Nazareth, “Love Hurts.” Uughh… sakit!

Kalau kamu baca semua ratap tangis saya ini, tolong jangan suruh saya kembali ke dunia ya! Saya tidak bisa lagi menjejak di bumi dan mengangkat kepala saya tinggi-tinggi untuk menundukkan matahari. Saya kehilangan pesona itu.

Tolong saya jangan diajak berkeliling dulu ya! Karena saya sedang sedih. Saya kehilangan dia. Saya tidak bisa membuang semua memori yang saya nikmati bersama dia, berdua. Tolong jangan paksa saya. Biar saja saya nikmati dulu musik-musik sedih ini, “Annie’s Song” dari Jhon Denverlah yang memuaskan kelukaan ini.

Saya sedang hampa, solois tanpa petikan gitar. Tidak, saya tidak ingin menyanyi dulu. Tidak ingin menangis lagi.

“Astaga… oh Tuhan! Saya sendiri. Benar-benar sendiri!”

Saya bersyukur, maka saya ada.

Seumur hidup saya, sepanjang 25 tahun menjalani, baru sekali ini saja saya merasakan benar-benar ikhlas. Sejak kecil dulu, karena semua mimpi dan keinginan sulit diwujudkan, saya terbiasa untuk hanya melupakan saja. Tanpa harus merasa ikhlas atau apa. Tapi saya biasa mendendam, dan mengancam hal itu akan saya wujudkan someday dengan cara benar atau tidak benar.

Menjadi tunggal, dan perempuan pula dalam keluarga, membuat saya tumbuh emosional. Keadaan keluarga yang tidak kondusif, orangtua yang tidak selalu selamanya damai, menjadikan saya adalah saksi bisu pertengkaran mereka. Dan tanpa disadari, menjadi korban KDRT mereka, membuat saya pelan-pelan membenci hidup saya sendiri. Malah terkadang membenci Tuhan.

Saat remaja, darah berontak itu demikian bergolak. Saya berani melawan orangtua. Saya berani menentang mereka yang tidak sependapat dengan saya. Saya berani keluar dari rumah dan sekaligus keluar dari kampus. Saya hidup sendiri. Benar-benar otonomi. Benar-benar merdeka dan tidak kenal keluarga lagi. Tidak kenal Tuhan, bahkan tidak kenal yang namanya ikhlas lagi. Saya sempat menyatakan diri sebagai atheis, dan menyangsikan nikmat Tuhan. Karena yang saya rasa saat itu, Dia tak ada dan Dia tak memperdulikan saya. Maka yang saya rasa, saya tak perlu menyerahkan hidup saya padaNya. Hidup saya seutuhnya milik saya, di tangan saya, tinggal mengikuti kemana langkah kaki mengarah.

Waktu berjalan. Masalah datang dan pergi. Air mata membasah dan tawa kadang mengalir. Wajah-wajah baru dan lama, mengunjungi dan menghilang. Demikian bergulir. Kisah cinta silih berganti. Hidup, naik dan turun. Dan hati, semakin lelah mencari. Lelah merasa duka, merasa luka, merasa hilang arah. Di kisah cinta yang terakhir, Tuhan menjadi pembeda. Tapi, dasar saya tak peduli tentang itu, benar-benar tak mendengar kalau Ibu tak setuju. Saya pergi untuk melangkah pergi dari Ibu dan Tuhan saya untuk selamanya, demi bisa bersama laki-laki yang saya cintai dan Tuhan lelaki saya itu. Demi, semua karena cinta buta.

Tapi, ketika saya menuju laki-laki pilihan saya, Tuhan menuliskan hal lain. Di tengah jalan, mata dan hati saya dibuka, bahwa dia, laki-laki yang saya sangat cinta semesta alam itu, tengah bercinta dengan wanita lain.
Saya marah, mabuk, menyakiti diri. Sempat terfikir untuk bunuh diri, tapi tak kunjung Tuhan beri kesempatan menemukan senjata untuk memutus nafas sendiri. Apakah karena Ia masih sayang saya? Mungkin.

Dan di tengah kepayang saya akan cinta busuk itu, di akhir mabuk dan usaha bunuh diri yang tak juga berhasil, seorang laki-laki datang dan menyeret saya kembali ke dalam kehidupan. Ia menghapus air mata saya dan memulangkan saya ke rumah ibu. Saya sudah tidak bernafsu lagi tentang hidup. Jadi ia tak begitu mempesona saya. Meski ibu memberi angka hampir sempurna pada fisik dan akhlaknya. Saya hampir juga membenci dia karena dia mengembalikan saya ke ibu, perempuan paruh baya yang juga saya benci saat itu.

Dunia runtuh sudah, untuk saya masa itu. Saya benci orangtua saya yang sedang berusaha rujuk kembali, saya dikhianati cinta yang tadinya saya percaya untuk selamanya. Saya kehilangan semua hal menyenangkan dan mimpi-mimpi indah saya. Selera saya akan kehidupan saya kini hancur hambar tanpa sisa. Saya hanya ingin mati. Namun, matipun tetap terasa dipersulit Tuhan.

Hingga puncaknya, laki-laki ini datang melamar saya suatu hari. Pahlawan kesiangan itu berani-beraninya meminta saya menjadi istrinya. Tapi saya sudah tak terlalu peduli, jadi saya ikuti saja rencana mereka; ibu dan Mas saya ini tentang pernikahan. Saya masih ngelangut, masih dibuat hancur oleh cinta saya sebelumnya. Hingga harinya tiba, saya dan Mas bersanding. Dan sejak itu, Mas merumahkan saya, hanya untuk dia, setiap saat. Tidak ada ikhlas di hati saya, tak pun ada bahagia yang sejati. Saya begitu palsu. Saya begitu kelu. Saya seperti tak bernyawa, meski jiwa raga saya telah dimilikinya.

Namun sudahkah ini selesai? Tidak. Masa terberat saya ternyata datang kemudian. Kondisi fisik menurun, saya dinyatakan hamil. Saya terkejut, seperti tak sanggup menerima kenyataan. Setiap malam saya mengingat cinta saya yang telah lalu, menyesali semua langkah yang kelewat jauh ini. Saya berkali menghubungi cinta saya yang lalu, tapi apalah daya, saya tak mungkin meminta cinta kembali. Saya tak mungkin pergi dari sini. Tiada ikhlas, tawa itu tetap saya gulirkan. Pura-pura bahagia agar semua senang. Pura-pura senang agar semua bahagia. Padahal saya mulai melawan, mulai sering bertengkar dengan dia. Dan saya tak peduli betapa ia sakit karena saya.

Momen melahirkan adalah awal momen masa gelap hidup saya. Saat semua ibu berbahagia karena punya anak, saya justru gigit jari. Memikirkan kebebasan yang saya tak akan punya lagi. Mengkhawatirkan, bagaimana cara saya bisa membesarkan anak ini sementara saya galau dan amat labil. Meski begitu, saya tetap pulang dan merawatnya di rmh. Lelah, sudah pasti. Stres, apalagi! Fase baby blues mendera saya sampai 2 tahun lamanya. Dan saya harus mengakui bahwa saya adalah ibu terburuk, sangat terburuk, di dunia.

Mengapakah? Karena di saat perempuan lain ada yang sedang menantikan kehamilan dan merindukan anugerah menjadi ibu, di sini saya justru menyiksa darah daging saya sendiri. Di usia 4 bulan, anak ini sudah saya bawa pergi, kabur dari rumah. Meninggalkan Mas. Dan akhirnya pisah ranjang. Selanjutnya kami tinggal di rmh ibu, sampai akhirnya dapat rujuk kembali. Tapi setelah itu, seiring pertumbuhan anak saya, Ganesha, dan rujuknya rumahtanggaku, mental dan kejiwaan saya makin parah terganggu.

Pekerjaan lapangan sebagai reporter dan hidup hura-hura-hore yang dulu, tak bisa saya nikmati lagi setelah Ganesha lahir. Yang ada saat ini hanya repotnya mengurus anak, membersihkan kotorannya, memandikan, menyusui, masak, dan selalu saja, pakaian lusuh yang terlihat. Betapa saya rindu masa lalu. Keindahan sebagai ibu tak terlihat di mata saya. Saya frustasi. Anak ini sering kali makin membuat depresi dengan sejuta tingkah nakalnya.

Beberapa kali, ketika Ganesha bertingkah nakal, saya justru membantingnya di tempat tidur. Tak jarang bocah mungil ini saya tendang. Tak terhitung berapa kali sudah, tamparan saya dia rasakan. Tapi tidak ada kasihan dalam mata saya ketika melihatnya meringis kesakitan sekaligus terkejut. Bahwa ibunya, berubah menjadi monster. Saya menebak dia tak punya sama sekali gambaran wanita kemayu dengan wajah bidadari yang penuh kasih sayang, dan disebut Bunda. Ibunya sangat tidak seperti itu.

Saya benci sekali menyadari fakta bahwa anak ini tak bisa mengerjakan apa-apa dan hanya tergantung pada saya untuk melakukan semua. Makan, mandi, pakai baju, poop, semua saya yang kerjakan. Terlebih lagi, suami, sibuk setengah mati dengan pekerjaannya sendiri. Berangkat subuh-pulang tahajud, mulai dari gelap sampai gelap lagi. Saya sendirian di dunia yang berantakan. Tak berteman, tak bercinta, tak bahagia. Hanya digelendoti anak manja ini. Anak yang mengikat kedua kaki dan tangan saya hingga saya mati berdiri.

Ibu macam apakah saya? Busuk! Puncaknya, ketika Ganesh sudah makin gemar bermain mengelilingi rumah tanpa peduli poopnya dia bawa kemana-mana. Saya marah besar! Saya hampir memaksanya memakan kotorannya sendiri. Saya hampir ambil pisau, untuknya dan untuk saya. Tapi gila! Saya tetap tidak sanggup. Apa mau Tuhan pada hidup saya ini? Ganesha menangis meminta maaf pada saya, di atas kotorannya sendiri. Saya menangis marah. Marah pada entah! Ya, saya memang gila! Memang ibu yang kurang ajar! Kualat!

Kepala saya mau pecah. Saya tak tahan lagi. Bila saya diam saja dan terus menjalani hari-hari seperti ini, saya akan beneran gila. Jangan-jangan, anak ini akan saya lumat mentah-mentah. Maka, ketika ada peluang keluar rumah untuk bekerja, saya langsung ambil. Ganesha, saya titip di rumah ibu. Meskipun ada sisi ruang hati saya yang tak rela berpisah dengan Ganesha, lebih karena perasaan bersalah saya karena selalu menyiksanya, saya memaksa tetap harus pergi. Semata karena saya tak ingin menyakitinya lagi.

Bekerja di perusahaan yang jam kerjanya gila-gilaan juga, membuat saya dan keluarga tak terlalu akrab. Tekanan di kantor lebih menyakitkan. Saya sempat berfikir ini karma. Ternyata diomeli dan diperintahkan orang ini-itu sangat tidak menyenangkan. Terkadang saya memikirkan Ganesha di sela-sela kerja keras saya, tapi ego saya mengalahkan segalanya. Saya tidak menjalankan peran saya lagi sebagai ibu. Ganesha makin kurus bila dipandang, makin kurang ajar karena terbiasa dimanja Yang-Utinya. Dan saya semakin tak sayang.

Hingga suatu hari, asma yang saya idap sejak SMA, tiba-tiba menjerat saluran nafas. Saya sedang kerja kala itu. Tiba-tiba berderai air mata, karena saya merasakan sakit yang amat sangat. Hampir pingsan, tapi saya dibuat sadar terus oleh Tuhan, mungkin agar saya tetap merasakan sakitnya detik per detik. Saya mencoba bertahan, meski nafas seakan sangat menusuk tajam. Berhari-hari, dan saya drop suatu ketika. Pada suatu tali Tuhan, yang dililitkan di leher saya hingga nafas tercekik, darah sudah seperti tak mengalir. Pipis dan poop keluar begitu saja tanpa kendali. Saya dilarikan ke RS dekat rumah. Muntah berkali-kali, selang oksigen mengisi hidung. Sempat tak sadar, tapi kemudian saya dibangunkan Tuhan dengan batuk yang amat perih, menyakitkan seluruh indera. Saya dipulangkan tanpa kesembuhan total. Nafas tetap pendek, darah tak terpompa-pompa naik ke otak, sekujur dingin beku. Tapi mereka hanya mengatakan saya asma, kemudian saya dipulangkan dengan nafas yang kadang masih terengah-engah.

Ini adalah hari pertama saya bisa mengucap terima kasih pada orang-orang. Seluruh sepuh keluarga datang, ritual-ritual berdoa bersama pun diadakan. Namun nafas ini masih saja menjadi cobaan. Saya memang tak masuk kerja karena kondisi badan belum pulih. Rasanya lelah sekali, gagal memompa darah sendiri karena tak ada asupan oksigen yang kuat untuk menyebar oksigen ke segala penjuru tubuh. Malamnya, Tuhan datang lagi! Dalam sesak. Begadang yang kemarin belum terbayar, bertumpuk dengan sakaratul malam ini. Saya duduk tersengal. Mata memejam, menahan perih di tenggorokan. Kaki dingin, paha dan lutut dingin. Perut tak terasa, apakah masih ada di sana atau tidak. Dada saya tak boleh salah posisi. Salah sedikit saja, saluran nafas sepanjang hidung, kerongkongan, sampai ke paru-paru, tak bisa lancar mengalir. Akibatnya, mata saya akan mendelik-mendelik, dan mulut gelagapan, seperti ikan mencari udara ketika tiada air.

Proses ini berlangsung lama. Meski minum obat, tidak ada pengaruh sama sekali. Saya fikir dan orang-orang di sekitar saya fikir, umur saya tak akan panjang lagi, karena nafas sudah sekelingking. Ibarat senar gitar, nafas saya yang dipetikkan tangan Tuhan, tinggal ditarik saja dengan kasar, maka putuslah, hilanglah umur saya saat itu, jika Tuhan berkehendak. Saya tidak bisa mengucap. Hanya bahasa tangan yang menjadi isyarat dari saya ke orang-orang sekitar.

Badan saya kaku, karena tidak ada energi. Dan bila saya bergerak, hanya akan mengakibatkan dada juga bergerak, maka saya akan batuk sampai sakit dan mendelik dan tersengal, dan sakaratul! Malam itu, Mas Suami mengabarkan ke semua orang yang kenal saya di luar sana. Isi kabarnya, saya sedang di ujung maut, dan segala kerendahan hati saya meminta dimaafkan dan diikhlaskan atas semua di masa lalu. Termasuk pada cinta-cinta saya di masa lalu. Paling tidak, bila saya benar-benar mati, saya sempat meminta maaf. Meski surga amat jauh dari jangkauan.

Yang paling saya sedihkan, Ganesha, buah hati saya, yang di hari-hari lampau saya siksa lahir bathin, dengan setianya berada di samping saya. Bocah laki-laki usia 3 tahun ini memang tidak menangis, tapi dalam genggaman jari-jemarinya yang mungil, ia seperti tak ingin saya pergi. Dan sebisik kalimat saya dengar dari bibirnya...

"Bunda, Ganesh ngga mau Bunda meninggal.."

Dalam sakaratul saya, hati saya menangis. Dan baru sekali itu, saya merasa amat menyayangi Ganesha, anak saya. Baru sekali itu saya merasa bersalah padanya. Dan baru sekali itu, saya merasa ikhlas atas semua yang Tuhan gariskan untuk hidup saya.
Ganesha dituntun ibu saya, mengangkat tangan dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa bahwa mereka sayang saya dan berharap saya sembuh dan tidak pergi secepat ini. Saya tiada daya. Saya hancur melebur. Saya tak punya asa lagi. Hanya nafas ini yang saya harapkan agak meregang. Entah meregang bangun atau meregang nyawa. Saya melihat ikhlas yang sangat tulus dari Ganesha. Saya terharu, tapi sungguh, saya tidak menemukan cara untuk menebus cinta ikhlas anak saya ini.

Pelan-pelan, badan saya diangkat Mas Suami. Ia melarikan saya ke RS, lagi. Kali ini memang sudah tidak bisa ditahan lagi karena tiap kali batuk, darah mulai keluar dari mulut saya. Sampai di RS, semua orang sibuk memasang ini-itu ke badan saya. Saya memejamkan mata, merasa kacau, seperti berjudi dengan Tuhan. Marah, pasrah, gelisah, campur saja. Tapi kalimat istighfar terus ditasbihkan suami di telinga saya. Saya genggam tangannya lemah. Saya amat jatuh cinta padanya saat itu.

Masa kritis lewat. Air mata mengalir, masih dalam kondisi labil. Tiba-tiba, seorang pasien dipindah ke ranjang sebelah. Seorang ibu, pasien jantung. Nafasnya 11-12 dengan saya. Kami berdua sama-sama sudah tidak bisa rebah, tidak bisa saling bicara, tidak bisa berbahasa. Kondisinya lebih memprihatinkan daripada saya. Saya merasa iba sampai rasanya hati amat terluka melihatnya. Saya masih beruntung masih bisa tersenyum pada Mas Suami. Ibu ini tidak. Dia dengan bahasa isyaratnya dan suara dengusan nafasnya, menggambarkan ia marah. Seperti saya, marah pada entah. Berkali-kali kami beradu pandang. Saya di dalam hati, mendoakannya agar segera tenang dalam nafasnya. Sebenarnya hati saya seperti telah merasa dia akan segera dijemputNya. Saya bisa merasakan sengalan nafasnya begitu berbeda. Ia melihat saya lagi, ditatapnya saya yang berlinang air mata. Dan di detik terakhir, ia dengan isyaratnya meminta suaminya pergi mengambil air di luar kamar. Saya, satu-satunya saksi di kamar itu, dengan mata terpejam karena takut menatap kuasa Tuhan akan hidup dan mati, dengan telinga yang masih terpasang nyalang, melepas si ibu pergi kembali kepadaNya. Maka ketika sang suami kembali, ia menemui istrinya dalam kondisi tak bernyawa lagi. Istrinya pergi, karena sakit yang mirip saya. Sang suami meratap, berteriak, menangis, dan kata-katanya dipenuhi permintaan agar istrinya tak mati. Saya hancur, saya hancur terkubur.

Merasa kaget dan juga trauma, Mas Suami segera membawa saya pulang esok harinya. Saya masih bisu. Masih saja nanar mengingat bagaimana lemahnya manusia di mata Tuhan. Betapa tak ada apa-apanya manusia di tanganNya. Apakah guna sombong akan harta benda, paras, dan tahta, bila nyawa itu hanya milikNya. Bagaimana ajaibnya, nyawa itu dialirkan Tuhan di dalam tubuh manusia, dan diambilnya kembali seketika. Ngeri.

Dokter medis bilang saya mengidap bronchitis, akut tapi tak perlu takut. Karena sakit saya juga tak butuh obat yang serius. Tapi bagaimana mungkin, saya bisa tenang-tenang saja dan percaya kata-kata mereka? Bila setiap pagi dan malam, sakaratul ini juga tak habis-habis. Bayangan kematian mengitari, kapan saja saya bisa mati. Dan mereka cuma bilang, ini sakit batuk?!

Sampai akhirnya, sakit ini membawa saya ke klinik pengobatan alternatif di daerah Cinere. Ibu ini, bernama Nyai Uban, sangat terkenal di kalangan pengobatan alternatif. Dengan logat khas betawinya, dia mendiagnosa sakit saya. Dan hasil diagnosanya, benar-benar membuat saya terkejut. Kalau dokter bilang, saya bronchitis, Nyai Uban bilang katup jantung saya bocor karena terendam flek yang membanjiri paru-paru. Saya disarankan untuk melakukan operasi penggantian katup jantung dan menguras flek di paru-paru. Saya terpukul. Mas Suami lebih lemas dari pada saya. Saya merasa bersalah padanya.

Esoknya kami kembali lagi ke Nyai Uban, untuk menjalani operasi. Semua keluarga yang mengantar saya, berkomat-kamit mengucap doa. Saya dibaringkan di ranjang kayu di sebuah kamar yang hanya ada Nyai Uban dan saya di sana. Mata saya ditutup agar saya tak ngeri sendiri, tapi saya dibiarkan sadar. Nyai Uban menyiapkan es batu dalam plastik ukuran besar, kira-kira setengah kilo, 2 buah. Diletakkannya es itu di dada saya, di pelapis kulit tempat jantung dan paru-paru saya berada. Maksudnya agar ba'al atau kebal, jadi saya seakan dibius lokal, hanya daerah itu saja. Saya terus berbicara, entah apa, saya berusaha mengusir rasa takut saya. Sumpah, saya tak bermaksud memainkan takdir Tuhan.

Setelah saya kebal, saya mendengar Nyai Uban menyiapkan alat-alat untuk mengoperasi. Dan sebentuk besi ditempel di dada saya, besi ini seperti memiliki dua bilah yang bergerak menutup dan membuka, ia berjalan di sepanjang garis ulu hati saya, dan berbunyi "kress..kress." Astaga! Dada saya tengah digunting!!!! Bila besi itu adalah gunting besi besar yang biasa dipakai memotong bahan untuk pakaian, maka kali ini dada saya yang digunting bak kain perca tak berdaya.

Saya masih tetap sadar, saya juga bisa merasakan dada saya menganga. Seperti halaman buku yang dibuka membelah, rasanya dingin dan terbuka lebar. Dan saya masih terus saja mengoceh. Pikiran saya kalut mengangkasa, kusut mengira-ngira, apakah yang sedang terjadi pada saya.

Sayup di luar saya dengar, lirih suara Ganesha meratapi saya. Dipanggilnya saya, dimintanya kepada ibu saya, agar dipertemukan dengan saya segera. Saya mengepalkan tangan, menguatkan hati. Dengan sadar, saya berdoa di dalam kalbu, meminta pertolongan Tuhan yang selama ini saya jauhi. Saya merasa hina, merasa hanya seberkas debu di hadapanNya. Apalah saya ini. Sudah hancur berkeping dan masih saja Dia beri saya nafas dengan dada terbelah! Tuhan Maha Gila dengan menciptakan tangan Nyai Uban ini untuk mengoperasi saya. Tak sedikitpun saya merasa sakit atau perih atau segala yang kita bisa bayangkan apabila dada seorang manusia TERBELAH! Ajaib? Ini lebih di luar akal, Saudaraku! Lebih dari pada itu!

Di luar, ibu saya membimbing Ganesha mengangkat kedua tangan seraya berdoa. Tangis Ganesh sesenggukan di sela kata-katany, "Ya owoh..hiks.. Sembuhkan..hiks.. Bunda Ganesh, ya owoh..hiks..."

Saya terus mengucap tasbih, bibir berdzikir, sungguh tak ada lagi yang bisa manusia ucap ketika maut begitu terasa dekat di ujung hidung, melainkan nama Tuhannya. Saya menyerah. Saya mengaku kalah. Dialah Tuhan saya. Dan semua bahagia juga air mata, adalah hadiahNya untuk saya. Saya yang durhaka. Saya yang tak tahu terima kasih. Saya yang selalu memungkiri nikmatNya. Saya yang salah. Dan sudah seharusnya, bila operasi ini berhasil, saya bertaubat nasuha.

Sedetik setelah dada terbelah, saya merasakan aliran basah di seluruh dada. Darah saya ternyata tengah tumpah kemana-mana. Nyai Uban buru-buru mengambil kapas dan kain-kain untuk membersihkan darahnya. Sungguh! Saya tak akan melupakannya seumur hidup! Dengan darah yang masih meluap-luap, gunting dimasukkan ke dalam rongga dada, dengan es plastik yang membantu mengebalkan. Saya tak tahu apa yang terjadi. Nyai Uban bilang kalau dia sedang menggunting katup jantung saya yang dikatakannya rusak dan bocor. Tapi saya tak merasakan apa-apa.

Lalu, beliau meminta saya menarik nafas panjang, sambil tangannya menekan dada saya. Kemudian ketika saya melepas nafas, gejolak darah keluar seperti gelombang air bah dari dalam rongga dada. Dan sesuatu terasa mental keluar dari dalam tubuh saya, lalu jatuh di sisi kanan tangan saya. Saya tak tau itu apa, tapi tak terlalu besar, dan terasa membal dan lunak. Nyai Uban melakukan gerak cepat. Entah apa. Tak lama dada saya seperti dijahit dan digunting lagi. Kemudian dipakaikan perban dan selesai.

Mas Suami, ibu, Ganesha, dan sepuh-sepuh saya diminta masuk kamar. Semuanya bergidik. Melihat bekas darah di sekitar tubuh saya. Dan mereka ngeri melihat bekas operasi di sepanjang dada saya yang kemerahan, tertutup kapas-perban. Mereka menyebut-nyebut Tuhan, ketika di atas bekas jahitan mistikal itu, Nyai Uban menekankan tangannya seakan merekatkan jaitan. Saat saya membuka mata, saya kaget bukan kepalang, saya lihat sendiri daging hitam seperti ati-ampela yang ternyata adalah katup jantung saya.

Nyai Uban membekali saya obat, dan pesan-pesan agar saya pantang makan beberapa hal. Dan tahukah Anda, Saudaraku? Siapa yang paling ingat hal-hal pantangan itu dan selalu mengucapkannya untuk mengingatkanku? Dialah Ganesha. Dengan suara riangnya, dengan logat cadelnya, dengan gerakan jarinya yang seperti menghitung, "Bunda nda boleh makan pedes, es, santen, cama ayam. Cepet sehat donk, Bunda," katanya selalu.

Dan percaya atau tidak, mau-tak mau Anda harus percaya, dalam 2 hari ketika saya kembali ke Nyai Uban untuk kontrol kondisi, luka bekas operasi hilang tanpa gurat sama sekali!
2 bulan saya menjalani pemulihan. 2 bulan mendekam di rumah hanya untuk berusaha sehat dan menjadi manusia sewajarnya, seutuhnya lagi. 2 bulan yang sangat intim dengan Ganesha. 2 bulan yang amat bersahabat dengan Mas Suami, meski di sela kesibukannya kerja. 2 bulan yang artinya amat mendalam untuk saya bisa menyadari, bahwa nyawa saya, nafas saya hingga saat ini, adalah hutang saya pada Ganesha. Ganeshalah yang menyelamatkan saya dari jemputan maut Tuhan. Doa dan tangis manjanya yang ia tebus kepada Tuhan untuk membayar suratan maut Tuhan atas saya. Dia, malaikat pelindung saya.

2 bulan masa penyembuhan itu saya berfikir. Masa depan saya sudah tak sedemikian penting lagi karena hari tua saya adalah sepenuhnya bersama Ganesha. Tak seharusnya saya egois lagi, mementingkan kesenangan sendiri. Lagi pula, apa lagi yang saya cari? Saya hidup cukup, Mas Suami setia dan bertanggung jawab penuh atas kebahagiaan kami, dan Ganesha yang selalu mendoakan saya, juga orangtua yang pada akhirnya hidup rujuk bahagia di hari tua.

Akhirnya, tepat pada 11 Juli 2011, saya menjejakkan kaki di sekolah pertama Ganesha. Ia TK sekarang. Ini adalah hari pertamanya mengenakan seragam sekolah dan belajar dengan ibu guru dan teman-teman. Saya bangga padanya. Dan tepat pada hari itu juga, saya datang ke kantor saya. Ke tempat kerja keras yang tak kenal waktu. Ke tempat yang tadinya saya anggap tak manusiawi karena pressurenya teramat keras untuk saya. Saya berikan surat pengunduran diri saya yang di dalamnya saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Bila saya tak merasakan kerasnya kantor ini, mungkin saya tak akan pernah menghargai Ganesha dan arti hidup sesungguhnya di tengah keluarga.

Saya tak perlu lagi sibuk mencari pengakuan diri di mata dunia. Tugas saya selanjutnya begitu besar di depan. Bila kemarin-kemarin, saya sibuk berencana untuk masa depan gemilang saya, sekarang sudah saatnya saya menjadikan Ganesha terbaik di seumur hidupnya. Saya tak perlu berusaha menerbitkan karya besar karena Ganesha-lah masterpiece saya. Saya ikhlas menjadi full-time-mother untuknya kini.

Tentu saja profesi sebagai ibu bukanlah sembarang profesi. Pekerjaan ini menyangkut hidup dan mati. Kantor saya sekarang adalah kantor Tuhan. Yang gajinya adalah pahala. Dan kelak, bila saya mati nanti, hanya doa Ganesha yang mengantarkan saya ke syurga abadi.(*)