Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 31 Mei 2012

Democrazy's Story

Ketika tawaran menceritakan sejarah Democrazy disampaikan Hera dan Roel Riot pada saya, saya langsung mbungah. Perasaan senang melanda seketika. Tapi di tengah cengar-cengir mengingat wajah-wajah personil Democrazy, saya ngilu, karena hampir setengah kisah Democrazy telah mengembun di benak saya. Tapi ya, goresan Democrazy masih tetap berada di sana, selamanya.

Lalu saya coba membuka buku harian saya di tahun 2003, kemudian perlahan merunut lagi bagaimana Democrazy itu bisa ada. Bermula di tahun 2000an, sekumpulan anak-anak muda Ciracas (Jakarta Timur) membentuk band yang memang sejak awal sudah dinamakan Democrazy. Memainkan lagu-lagu Rykers dan sejenis, kebanyakan. Lalu bass playernya, Ferdian mengajak saya masuk di band tersebut. Ketika itu saya masih sekolah SMK. Saat itulah era baru Democrazy dimulai. Satu persatu formasi awal Democrazy berganti seiring perubahan gaya musik yang kami bawakan. Beat-beat Ryker’s bergeser menjadi Warzone, Ignite, Sick of It All, Project X, dan akhirnya Shutdown. Ketidakcocokan kesukaan pada jenis musik ini, hanya menyisakan saya dan Ferdian di Democrazy.

Lalu takdir mempertemukan kami dengan Xigit, gitaris asal Ciledug yang saat itu sedang kuliah di Univ. Pancasila. Kami terikat dalam rasa dan akhirnya menjalani prinsip hidup sehat bersama. Xigit adalah gitaris yang sempurna untuk Ferdian yang selalu lupa grip gitar. Dan Xigit adalah teman tandem yang sempurna untuk saya. Kami bisa gila bersama di atas panggung, berjingkrak, teriak, dan melompat ke penonton adalah momen-momen yang saya dan Xigit nikmati. Posisi drummer terus bergulir. Rama Bonges, drummer dari band Inner Struggle pernah membantu kami di gig Jakarta Bersatu I. Dan akhirnya, penantian kami sampai pada sosok Gofar, yang saat itu juga menjadi drummer Social Distrust, band punk Manggarai (Jakarta Selatan). Saya, Xigit, dan Ferdian menjalani straight edge, sedangkan Gofar tidak. Tapi semua itu bukan masalah. Sama sekali tidak menjalani kendala. Kami enjoy bersama.

Sejak 2002, Democrazy sudah mulai banyak main dimana-mana. Di Fortuna Little Hell (Tangerang) tepatnya tanggal 9 Maret 2003, tapi maaf lagi, saya juga lupa apa nama gignya. Hehe.. Juga salah satunya di Care and Respect gig tanggal 25 mei 2003 di jakarta Barat. Pada 25 Nopember 2003, kami recording untuk album ep pertama kami yang dirilis oleh record label yang Gofar kelola sendiri, New Heaven Rec. 6 lagu dengan beat musik cepat dengan suara cempreng saya. Kebanyakan berkisah tentang straight edge, dan beberapa cerita tentang perempuan dan cinta. Saya bangga, semua personil saya yang laki-laki tulen (hehe..) mendukung saya dan tidak pernah memperlakukan saya dengan berbeda. Saya menyayangi mereka seperti mereka selalu ada untuk saya.

Lalu besoknya, 26 Nopember 2003, Democrazy main di Having Fun Isn’t Sin gig. Ada Tanpa Batas, Reprobate, The Swift, Blue Flag, dan mereka semua adalah sahabat terbaik kami. Orang-orang yang sangat berarti untuk kami saat itu hingga saat ini. Democrazy juga pernah main di luar kota. Di Surabaya, kami main di We Stay Here With Pride gig tanggal 28 September 2003. Bersama teman-teman Dinoyo Youth Crew dan SBHC Kids. Juga di Yogya, tapi mohon maaf sujud sungkem, saya lupa nama event dan tanggalnya. Tapi bila saya tidak salah, lokasinya adalah di Bunker Café, dan kami menginap di rumah Brother Eic di daerah Timoho. Di sana saya kenal xIpheyx, Mbak Venus, Titan Revolt (Bogor), Mas Joko “Jembut”, Mas Gufi, dan saudara-saudara lain yang amat mengesankan hati saya. Saya pribadi, sungguh jatuh cinta pada Yogya, dan momen ini adalah salah satu pemicu utamanya. Ke Yogya, artinya sama dengan pulang, buat saya.

Kami pernah juga ikut urun di kompilasi Flower’s Compilation terbitan Klorofile Rec milik Andi Bagol (IISIP, Jakarta). Dalam kompilasi itu juga ada Heaven’s Fire, Punxtat, In Her Embrace, Keep On, Injustice, Total Confused, BTS, Skinny Dolls, dan Vortex Motion. Dan masih bersama perempuan-perempuan hebat ini, Democrazy juga ikut hura-hura-hore di Bleeding Sister gig yang diadakan di Bug’s Café, Jakarta, tapi saya lupa tanggalnya. Hm..embun-embun menguap di kepala saya. Kenangan manis ini membawa saya pada HardFest gig (sepertinya yang pertama saat itu) yang sepertinya adalah gig terakhir untuk Democrazy, untuk kami. Selanjutnya kami berpisah, kehidupan memisahkan kami dengan kesibukan dan sejuta alasan. Kalau tidak salah, Hardfest gig tahun 2005 adalah gig terakhir Democrazy, sebelum akhirnya berdiam diri sampai kini.

Kami tidak menyesal sama sekali. Berada di komunitas ini adalah sebuah kepingan kebahagiaan dalam hidup kami masing-masing. Karena ini bukan hanya tentang musik, tapi lebih luas lagi daripada langit semesta. Ini tentang jati diri, pertemanan kemudian menjadi keluarga, menggila di panggung, tentang semangat mandiri, tentang pilihan menjalani gaya hidup sxe, dan saling menginspirasi. Democrazy adalah masa yang manis dalam masa muda kami. Dan pada akhirnya, saya mewakili Ferdian, Xigit, dan Gofar berterimakasih pada teman-teman semua, memeluk teman dan saudara sekalian yang selalu mendukung Democrazy. Tidak akan pernah kami melupakan kalian semua. Tempat kalian di hati kami, selalu.

Terima kasih. Big thanx to: Behind Tha' Revo, Social Distrust, Inner Struggle, Snacky, Jembatan Merah Punx, Suropati Kids, Ciracas Youth Crew, SBHC, YKHC, Revolt and Raincity HC, Depok HC Kids, Ika dipepi, dan semuanya yang akan selalu mengiring jejak hidup kami.

Inspirasi tiada henti: Straight Answer, Tanpa Batas, Garis Lurus, First Of All, Lost Sight, Strike Back, dan banyak nama lagi yang akan selalu menghangatkan hati kami, you know who you are, lotsa thanks.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Send me your words