Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 10 Mei 2012

Me, I am.

I may not supa-dupa active like you. I may not working as hard as you do.

Cuma karena katup jantungku dibuat bekerja untuk lebih perlahan oleh Tuhan. Karena Ia tahu bagaimana kerasnya aku dulu, bekerja sedemikian lelahnya untuk bertahan hidup sampai ke titik ini.


Saat ini, aku mungkin belum menghasilkan materi sebanyak yang kau dapatkan. Aku memang tidak populer dan terkenal hebat seperti dirimu. Engkau dengan celoteh dan nyanyianmu yang begitu renyah di telinga siapapun. Engkau dengan tingginya dirimu, menjulang mengalahkan lapisan langit dan lembayung.


Tapi aku punya Guru Milang, yang sempurna mencintaiku. Aku punya Ganeshauman yang terlahir dari rahimku dan tumbuh menjadi anak cerdas dan sehat. Aku punya bapak dan ibu yang terikat erat dalam keagungan cinta.

Aku punya om dan tante yang selalu ada untuk menyediakan tawa bersama. Aku punya sepupu-sepupu yang melingkariku selalu.


Aku punya pagi yang tak tergesa dan aku masih sempat menari dalam sudutnya. Aku punya bangga ketika bersepeda mengantar Ganeshauman sekolah, menyusuri melodi memulai hari. Tak ada tekanan sama sekali dan aku tak perlu diperintah orang lain atau siapapun. Aku merdeka. Dan hanya Tuhan yang berhak atasku.


Aku punya siang yang menyenangkan kulewati dengan banyak aktifitas yang kusukai. Aku bebas memasak bersama kicau burung pagi, membuat kue dan gula-gula di dapur manisku sendiri, aku bebas menulis kisah cinta di sore hari, dan membacakan dongeng imaji kepada anakku ketika Guru Milang, kekasih kami pulang menjemput rindu dan menutup tirai penantian.


Aku percaya jalanmu tak perlu kulewati. Dan akhirnya aku mengerti mengapa kita harus berseberang jalan. Karena aku bahagia di sini. Dan engkau mendapatkan bahagiamu di sana.


Aku punya kantor, pekerjaan dan upah keberhasilanku sendiri. Tugas kita masing-masing berbeda. Bayaran kita masing-masing tak sama. Aku mengurus dan menjadi guru sepanjang waktu untuk anakku. Aku menyiapkan makan dan nutrisi dan menyempurnakan lipatan seragam kerja suamiku, agar ia bekerja sempurna mencari nafkah untuk kami. Aku bersenang-senang dengan rumahku yang bersih dan kutata dengan apapun yang melegakan hati. Aku bekerja keras, dengan caraku, dengan penghasilanku yang mungkin tak menyerupai materimu.


Dan bila tiba waktuku, bila harus merubah tarian rutinku, aku yakin itu adalah keinginan Sang Pemilik Nafasku. Ini adalah sandiwara dan dunia peran sampai nanti Dia ingin kita berpulang. Kau pun hanya menjalani peranmu. Tapi aku, tak akan menangisi diriku demimu. Aku akan mengecup matahari, dan memeluk bulan. Aku mencintai pekerjaanku di sini, yang nyaris tak terlihat, tapi sedikit istirahat. Aku mensyukuri kontrak kerjaku dari Tuhan, yang nyaris tak terperhatikan, namun aku selalu ada bila dirasakan.


Aku punya penghargaanku sendiri. Lebih dari kata-kata kebanggaanmu. Ini semua cuma titipan. Seberapapun kau banggakan. Seberapapun kujalani dalam berdoa dan harapan. Because it's me, I am.(*)


Published with Blogger-droid v2.0.4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Send me your words