Ada kesalahan di dalam gadget ini

Rabu, 27 Juni 2012

Sumpe' loh ini namanya zine?

Zine kedua terbitan saya :) Sudah punya nama meskipun tetap saja sesuka-suka saya. Dengar saja, namanya adalah "Sumpe' Loh Ini Namanya Zine?" Hehe..

Saya pilih nama ini karena saya ga mau terikat sama aturan zine ini harus begini dan begitu. Lingkungan komunitas saya saat itu adalah lingkungan yang berani menyatakan beda itu istimewa. Jadi meskipun zine saya disebut tak guna, cuek aja.

Dari edisi kedua ini, saya mau share puisi untuk blog ini. Tentang ibu saya dan perjalanan rumahtangganya yang tak pernah mulus. Dan saya, adalah penonton setia teater kehidupan ibu saya. Sekaligus korban yang paling pertama hancur ketika kebahagiaan ibu saya lebur.


YANG DILAKUKAN IBUKU HANYALAH MENUNGGU...

yang dilakukan ibuku hanyalah menunggu...
dulu, sewaktu perawan ibu menunggu jodohnya datang
untuk meminangnya menjadi istri
karena usianya mulai menua
ibu tidak ingin membuat malu orang tua
Ibu bilang,
siapapun lelaki yang datang akan diterimanya
tak peduli siapapun dia, bagaimanapun dia

setelah menikah, ibuku hanyalah menunggu...
menunggu suaminya pulang dengan senyum yang dipaksa melebar
malam... tengah malam... menjelang pagi...
ibu menunggu dengan setia, dengan aku di rahimnya
Ibu bilang,
ibu menyesal menerimanya sebagai suami
bajingan itu menyakiti, menyiksa, menginjak-injak
dan meludah di atas harga diri ibu,
tapi ibu tetap menunggu lelaki itu memandangnya dua mata

aku lahir, ibuku tetap hanya menunggu...
menunggu aku dewasa agar deritanya habis atau setidaknya berkurang
bajingan itu tetap pulang subuh, tak sadarkan diri
memukuli, dan esoknya bilang "sorry"
tapi lagi-lagi ibu tetap menunggu
dengan berjuta harapan dan doa di sujudnya

Yang dilakukan ibuku hanyalah menunggu...
Jika aku mengamatinya terus, aku juga jadi menunggu...
menunggu ibuku bangkit dari penantiannya yang tak kunjung usai
Tapi...
Aku bosan menunggu! Tidak seperti ibu yang hanya menunggu...
Lalu aku pergi tidur, menunggu dalam mimpi.







posted from Bloggeroid

Zine saya

Jadi, dulu waktu masih aktif bekerja saya berhasil menerbitkan zine saya sendiri. Oya zine adalah lawannya magazine. Mm..bukan lawan sih, tp versi indie-nya magazine. Konsepnya hanya majalah personal yang dibuat dengan cara gunting tempel kemudian diperbanyak dengan cara di-fotokopi kemudian saya bagikan secara gratis ke orang-orang. That's it. Dan di zine pertama terbitan saya ini, saya belum punya nama. Jadilah zine saya ini hanya saya kasih tanda tanya besar saja di sampul depannya.

Karena bersifat personal, pada zine inipun saya bersenang-senang dengan kesukaan saya sendiri. Desain, isi, dan semua bergaya egois dan tak peduli apa kata orang. Tapi tujuannya adalah bergerak dan mewujudkan mimpi sendiri. Kalo nggak kita, siapa lagi coba? Haha!

Nah salah satu tulisan saya di dalamnya adalah puisi suka-suka saya sendiri. Yuk ah mari dibaca :)

WORDLESS

Bagaimana bila kumulai semua tanpa kata?

Saat ini, aku berharap kau membacanya dalam mataku

Karena kata-kata itu mengalir dalam air mataku

Maka bicaralah! Jawablah dengan bahasamu

Aku sedang bisu. Gagu!

Tidak terbeli olehku, rangkaian kalimat-kalimat,
serta tiada harta untuk kusampaikan dalam tawa

Aku sedang bisu

Bolehkah aku bicara dengan air mataku?



Senin, 11 Juni 2012

Finally..

So..I produced my own cotton pasmina :) The brand is jemaripelangi. But I still work on to modify it. Love.


Jumat, 01 Juni 2012

Bayu Hening,
Kisah Cinta Kesunyian
Oleh: Jemaripelangi



Tak kusangka akan menemuinya lagi hari ini, setelah kehilangan yang panjang. Kami tak jumpa selama 1 tahun, dan aku sibuk menata perasaanku lagi demi menjawab semua rindu yang tak terbantahkan di hatiku.
Dia, seorang yang (pernah) spesial untukku. Datang bertahun lalu. Ketika aku masih muda, hijau, segar, berselimut keresahan. Hari itu, sesampainya aku di kota itu. Kedatanganku adalah untuk melanjutkan hidupku sendiri, setelah riuh-gemuruh masa lalu bergelimang di tempat asalku. Adalah Frans, cinta pertama yang tali cintanya masih bergelung dan menggantung-gantung leherku. Kemanapun aku pergi, sejauh apapun jarak kutempuh, hanya namanya yang kuhembus. Hanya senyumnya di udara. Namun ia tak pernah ada.
Cinta kami ia tinggal berserakan. Karena setelah lulus sekolah, kami dipisahkan keluarga karena semua menganggap cinta kami tak mungkin untuk disatukan. Orangtua Frans tak restu bila Frans berhubungan denganku, yang terkenal berasal dari keluarga yang complicated. Sebaik apapun aku berusaha agar diterima keluarga Frans, gambaran rumahtangga orangtuaku yang berantakan tetap tak bisa diterima keluarga Frans.  Ia dipaksa melanjutkan sekolahnya di luar negeri. Dan aku tertatih. Sendiri memunguti sisa kekuatanku menapaki hidup.
Tibalah aku di sini, di sebuah kampus, alih-alih aku melanjutkan pendidikanku di sini, seolah demi cita-citaku, demi masa depanku, demi melupakan Frans yang entah bagaimana tak bisa kuhapus begitu saja. Pertemuanku dengannya, dimulai setelah langkah kebingunganku mulai membuntukan di kampus ini. Dia, Mas Bayu.
Tak ada banyak hal yang kuingat di perkenalan kami pertama itu. Laki-laki berambut gondrong, berwajah teduh itupun tak menyebutkan namanya. Ia hanya memberikan kartu namanya ketika aku selesai menanyakan padanya dimanakah tempat untuk mendaftar ke fakultas seni rupa. Bayu Hening, Cinematographer, demikian tertulis dengan tinta hitam di kartunya. Kata-kata terima kasihku hanya dibalas senyumnya yang indah.
Laki-laki yang kuperkirakan selisih usia 10 tahun denganku itu tak banyak bicara. Ia benar-benar hening, larut dalam kesunyian yang hangat di pancar matanya. Rambut gondrongnya keemasan, sedikit terbakar matahari. Mungkin ketika ia sedang bekerja di lokasi suatu ketika. Ia kelihatan sangat bijak, dewasa, dan aku suka gayanya yang santai. Matanya sedikit sekali kontak dengan mataku. Entah mengapa. Ia seperti berusaha menghindari tatapanku. Tapi malam itu, aku tidur memeluk kartu namanya. Apakah aku jatuh cinta? Akupun entah.

1 minggu perkuliahanku telah mulai. Hari-hari yang datar, masih pilu karena kisah cinta Frans. Masih saja kosong hatiku terasa tersayat. Lorong-lorong kampus yang kujejaki dalam bisu. Nanar yang tak berujung. Hingga tiba-tiba Mas Bayu menghentikan langkahku dengan suaranya yang menyambut hangat, “Apa kabar Adinda?”
Kuangkat tatapanku langsung pada matanya. Dan kali ini ia tak menghindar. Senyum, aku mulai tersenyum lagi. Kekakuan itu telah cair. Maka semenjak itu, nyaris tiada hari yang kuhabiskan tanpa hadirnya Mas Bayu. Kami menonton pertunjukan teater bersama, menghadiri seminar, mengerjakan proyek fotografi bersama, makan malam.
Hidup berjalan begitu saja, mengalir lembut tanpa derai menghempas. Tawa yang perlahan menyusuri lingkar hati, menyatukan aku dan Mas Bayu. Namun betapapun manisnya waktu bersama, aku tetap tak mengenalnya. Aku mungkin saja sudah bisa bangkit perlahan, tapi sosok Frans belum terganti apapun. Mas Bayu yang sangat dewasa itu tak pernah membuka tabir dirinya. Ia begitu rapi menutup identitasnya. Maka itu, aku tak pernah berusaha meraba lebih jauh. Mas Bayu yang selalu datang padaku adalah Mas Bayu yang hanya begitu saja, seada-adanya, bila di hadapanku. Mengertikah engkau?
Maksudku, Mas Bayu tidak pernah membicarakan hal lain bila sedang bersamaku. Topik kami hanya sekitar hal yang sedang kami jalani saat itu, tentang dia dan aku saat itu. Masa lalu, tadi, esok, masa depan, sama sekali tak pernah dibahasnya. Ia sangat hadir di setiap momen kebersamaan kami, tapi aku tak pernah tahu apakah dan bagaimanakah hidupnya di luar waktu kami.
Apakah salahku? Apakah semua ini karena aku sendiri? Aku bahkan tak mengerti apa yang terjadi pada hatiku, perasaanku. Aku hanya teramat bahagia bisa berada di sisi Mas Bayu. Aku amat senang bila ia datang dan menghabiskan waktunya bersamaku. Aku hanya amat merasa istimewa bila ia menggenggam jemariku dan menanyakan apa kabarku saat itu. Aku hanya teramat bungah bila ia selalu ada, menghapus kedukaan. Tapi apa terjemahan semua ini, aku tak tahu. Aku tak mampu menerka-nerka, karena sejujurnya ketakutan akan hal bernama cinta mengungkungku dan enggan keluar. Aku tak sanggup melepaskan diriku sendiri dari bayang masa lalu. Dan laki-laki ini, Mas Bayu, sama sekali tak peduli akan itu. Ia membiarkanku bingung dan tersesat dalam perasaanku sendiri.
Kadang aku merasa Mas Bayu mencintaiku. Tapi kepercayaan itu runtuh setiap kali ia memperlakukanku layaknya seorang adik. Ia dengan gaya santainya yang senang mengolok dan menggodaku. Kadang aku merasa ada cinta di setiap genggam jemarinya, tapi aku sudah tak percaya diri lagi di hadapannya. Buktinya, ia tak pernah memberitahuku siapa dirinya. Bahkan aku tak tahu, apakah ia punya kekasih di luar sana, ataukah mungkin ia sudah menikah dan istrinya tengah menunggunya di rumah, sementara ia di sini, makan malam denganku. Tiba-tiba aku merasa jahat, aku merasa Mas Bayu jahat.
Aku tak berani menanyakan hal-hal semacam itu. Aku menyanjungnya, betapa menghormatinya. Mas Bayu teramat baik, dan aku takut dianggap terlalu cerewet dan terlalu ingin tahu. Hingga suatu ketika, aku memutuskan untuk pulang ke kotaku. Ada masalah keluarga yang memang sulit untuk diurai. Yang membuatku tak punya pilihan selain pulang dan menghentikan kuliahku di tengah jalan. Yang melebur mimpi-mimpi, yang mau tak mau kulepas ikhlas.
“Boleh aku ikut ke rumah kamu?”
“Buat apa Mas? Hidup kami kacau di sana,” jawabku pada Mas Bayu. Ada kaget di air mukanya. “Sebaiknya jangan,” kataku lagi. Rambut gondrongnya dihempas, ia mengangguk-ngangguk dan membuang tatapannya jauh dariku, seperti dulu kali pertama jumpa.
Aku pergi. Berbulan-bulan. Kadang aku terima teks pesan dari Mas Bayu, menanyakan kabar sekedarnya. Permintaan kunjungan kadang terlontar, tapi selalu saja kutolak. Hidupku kacau di sini, dan aku hampir tak peduli lagi pada semua. Frans pun telah benar-benar pergi. Sampai suatu saat, Mas Bayu benar-benar memaksaku kembali ke kotanya. Bukan untuknya, bukan untuk pernyataan cintanya, tapi untuk sebuah pekerjaan. Dia memaksaku datang karena ada proyek videonya yang butuh sentuhan tanganku menata properti dan segala hal yang dipakai di video itu. Namun bersamaan dengan itu, Ibu sedang berencana menjodohkan aku dengan seseorang.
Maka inilah saatnya kami bertemu lagi. Aku telah menunggu di alamat  kantor yang ia kirim kemarin. Pakaianku kurapikan, wajahku kuhias sedemikian. Aku tak ingin ia melihatku berubah sedikitpun. Setelah tak sabar menunggu, hadirlah Mas Bayu di hadapanku kini. Genggaman tangannya sudah tak seperti dulu, dan di sampingnya sudah ada Miranda, produser kami yang ternyata akan menikah dengan Mas Bayu beberapa bulan ke muka. Aku yang semula semangat, lemas seketika. Tidak, aku tak hancur. Tapi hatiku menguap. Ada rasa dingin di hatiku, di dada, dan menjalar ke tangan dan muka, mengembun membuat air mataku menggembung tapi tak kunjung menitik. Senyum yang kupaksakan, turut senang akan kabar mereka.
Sepanjang menjalani proyek ini aku tak menemukan lagi tatap hangat mata sendu Mas Bayu. Tapi kadang aku mendapatinya sedang mencuri-curi tatapku dari balik meja kerja kami yang berseberangan. Jarak kami amat jauh kini, padahal kami amat lekat dulu. Ada Miranda sebagai dinding pemisah, yang membuatku tak bisa bermanja-manja lagi padanya. Sekarang Miranda adalah prioritas. Segala senyum dan momen saat ini adalah tentang Miranda. Mas Bayu tak pernah berusaha mencoba dekat lagi. Akupun berusaha seprofesional mungkin. Datang dan pergi dengan tak banyak bicara. Tak ingin membuat kesan yang terlalu dalam di sini. Bagaimanapun aku dan Miranda sama-sama perempuan, aku mengerti bagaimana perasaannya. Jadi tak perlulah rasanya aku menyeret-nyeret kisah lalu di ruang ini.
Maka setelah pekerjaan ini selesai, aku pergi. Maksudku, benar-benar pergi. Dari hidup Mas Bayu, dan dari masa lalu kami. Mas Bayu berhak bahagia dengan Miranda, begitupun aku dengan hidupku. Rencana ibuku terlaksana. Demi berbakti, aku menikah dengan laki-laki pilihan ibu. Beginilah hidup. Kadang kita memang tidak bisa menuntut banyak. Ini semua hanya panggung sandiwara, dan peranmu akan membawamu pada indah ketika waktunya tiba.
Makna itu kuresapi. Namun sayang aku tak sanggup menahan serpihan cerita ini sebelum aku benar-benar melenggang tenang ke masa depan. Dan perasaan itu tembus. Setahun tak berkabar, chat online mempertemukan aku dengan Mas Bayu lagi. Inilah saatnya, titik balikku menuju masa depan.
Bayu Hening: Selamat siang, apa kabar Adinda?
Adinda: Siang Mas, baik.

(Kami terdiam sekian lama. Bingung memulai)

Bayu Hening: Sibukkah? Aku ada proyek baru. Dinda mau join?
Adinda: Mm.. Sebaiknya tidak Mas.
Bayu Hening: Loh? Kenapa?
Adinda: Aku belum dapat izin dari suami untuk kerja keluar kota.
Bayu Hening: Apa? Kamu sudah nikah?

(Aku bisa membayangkan wajahnya terkejut di seberang layar sana)

Adinda: Iya Mas, aku sudah menikah dengan laki-laki yang dipilih Ibu. Maaf tidak mengundang.
Adinda: Bagaimana dengan Mas sendiri? Dan Miranda?
Bayu Hening: Tidak. Miranda selingkuh.
Adinda: Apa?? Yang benar Mas? I’m sorry to hear that.
Bayu Hening: Gapapa kok.

(Lalu perasaan itu memaksa keluar dari kotak di hatiku)

Adinda: Mas…
Adinda: Apa boleh perempuan bersuami jatuh cinta?
Bayu Hening: Hm, susah jawabnya.
Adinda: Tentu bukan cinta yang menginginkan fisik, bukan cinta abg yang selalu ingin menyentuh. Bukan. Bukan itu. Tapi cinta yang artinya lebih dalam.
Bayu Hening:  Ya, sebenarnya rasa cinta itu kan manusiawi. Lahirnya karena rasa kagum. Masalahnya kamu sudah menikah, sudah ada suami yang lebih berhak mendapat perhatian penuh dari kamu.
Adinda: Jadi salah ya? Tapi rasa di hatiku, cinta atau apalah namanya, tidak menuntut apapun.
Bayu Hening: Apapun alasannya kamu suka pada orang ketiga, tetap saja penilaian orang akan buruk dan salah secara umum.
Adinda: Jadi ga boleh ya?
Bayu Hening: Aku nggak bisa menilai dengan kata boleh atau tidak boleh. Siapalah aku ini.
Adinda: Kalau nggak boleh, mungkin ini akan menjadi live chat kita yang terakhir untuk selamanya.
Bayu Hening: Maksud kamu?
Adinda: Iya, karena aku sayang Mas Bayu. Aku sayang Mas Bayu sudah sejak lama dulu.
Adinda: Tapi aku nggak pernah punya keberanian untuk bilang ke Mas Bayu. Ada bunga yang selalu mekar tiap kali ketemu Mas Bayu. Aku bahagia kalau ketemu Mas Bayu. Dan aku merasa bersalah telah melewatkan Mas Bayu di kehidupanku.
Bayu Hening: Woow! Kamu jangan gitu, ah. Kamu fokus sama keluarga kamu aja.
Adinda: Iya, pasti. Setelah inipun aku pasti akan lebih konsen lagi ke suami dan keluargaku.
Bayu Hening: Ya, aku paham.
Adinda: Aku juga ga menuntut apa-apa, nggak mau merubah yang ada. Aku cuma mau Mas Bayu tau yang sebenarnya aku rasa.
Adinda: Lagipula cinta itu rezeki, dan rindu ini indah sekali. Aku nikmati sendiri sambil dengar musik dan jatuh cinta lagi pada memori.
Adinda: Kalau Mas Bayu nggak terima, ya aku minta maaf. Makanya aku bilang mungkin ini akan jadi live chat terakhir karena kemungkinan aja penilaian Mas Bayu berubah, seperti yang tadi Mas Bayu bilang.
Bayu Hening: Aku nggak berubah dan aku nggak berhak menilai kamu atau siapapun.
Adinda: Dulu aku merasa tidak pantas untuk cinta Mas Bayu, tapi akhirnya sekarang aku tau mengapa ditempatkan di sini sekarang sama Tuhan. Cukup aku dan Tuhan yang mengerti semua ini.
Adinda: Aku yakin Mas Bayu semakin tumbuh bijak sekarang. Maafkan aku.
Bayu Hening: Sebaiknya kamu mencurahkan kasih sayang kepada suami kamu, karena keluarga akan membawa keberkahan dan kebaikan yang abadi.
Adinda: Iya, pasti kok! Pasti aku akan mencurahkan semua hanya untuk mereka. Sekali lagi, aku tidak menuntut apapun Mas, atau meminta Mas Bayu melakukan sesuatu.
Adinda: Berharap Mas Bayu membalas pun tidak. Jejak langkah yang Mas Bayu tinggal di hatiku teramat manis. Aku nggak mau merusak apapun.
Bayu Hening: Adinda, aku terimakasih kalau kamu ternyata memahami saat yang aku alami pada masa itu. Akhirnya aku mendapat jawaban atas perasaanku saat itu. Dan aku terima kasih karena kita kemudian bisa menjadi sahabat.
Adinda: Saat yang Mas alami saat itu? Jawaban? Maksudnya apa Mas?
Bayu Hening: Aku doakan semoga kamu dan keluarga selalu bahagia.
Adinda: Keliatannya ini akan benar-benar menjadi chat yang terakhir ya.
Bayu Hening: Aku nggak mau memikirkan yang sudah lewat. Aku cuma ingin ke depan lebih baik. Tapi kenapa kamu mau membahas tentang ini sekarang?
Adinda: Karena tidak semudah itu menghapus semua ini. Justru aku ngga mau melukai Mas Bayu karena pengakuanku ini. Aku yang tidak pantas. Perasaan cinta inipun untukku sendiri, kunikmati sendiri, sebagai penghibur, kadang pencipta senyum. Aku akan biarkan dia tetap ada di sudut hati.
Bayu Hening: Jawab jujur, Dinda.
Adinda: Karena aku sayang Mas Bayu. Aku butuh perasaan ini agar tetap hidup dan yakin hidup ini indah, meski hanya kenangan sekalipun.
Bayu Hening: Baguslah kalau memang benar tidak ada apa-apa.
Adinda: Memang. Dan aku berdoa hanya maut yang akan memisahkan aku dengan suami. Aku nggak mau lagi kehilangan cinta.
Bayu Hening: Ya memang ada waktu dan saatnya seseorang membuka apa yang dirasakannya. Aku hargai itu.
Adinda: Aku hanya mau bilang Mas Bayu adalah momen termanis dalam hidupku. Tapi akulah yang mengecewakan, akulah yang salah mengartikan perhatian Mas Bayu. Itu yang paling aku sesali.
Bayu Hening: Aku datang karena aku merasa mampu. Kalau akhirnya diabaikan ya, apa boleh buat. Itu bagian dari apa yang kita rasa mampu ternyata belum tentu bisa diterima orang lain.
Adinda: Maksudnya?
Bayu Hening: Ah nggak, lupain aja.
Adinda: Mas Bayu tau nggak kapan penyesalan ini mulai membunuh aku pelan-pelan?
Bayu Hening: Kapan?
Adinda: Semenjak ada Miranda. Itu masa terburukku.
Bayu Hening: Loh, kenapa? Apa aku kelewat nggak peka?
Adinda: Bukan cemburu, tapi penyesalan yang kelewat terlambat. Karena aku sibuk memikirkan, kenapa dia yang Mas bayu pilih dan bukan aku.
Adinda: Sama aku aja, Mas Bayu nggak suka. Kenapa perempuan ini yang Mas Bayu pilih. Berarti aku memang nggak pantas.
Bayu Hening: Dinda, aku mau tanya. Kamu boleh jawab atau kamu nggak mau jawabpun, nggak masalah.
Adinda: Apa Mas?
Bayu Hening: Waktu pertama kali aku ketemu kamu, apa kamu sedang punya hubungan dengan orang lain?

(ASTAGAAA! Frans! Dia menanyakan tentang Frans!)

Adinda: Ya Mas, sedang. Tapi nggak jelas. Itu adalah sebuah hubungan yang tak mungkin bisa dilanjut kemanapun.
Bayu Hening: Masih ingat nggak terakhir aku ketemu kamu saat itu?
Adinda: Selasar Aksara?
Bayu Hening: Ya ya, ternyata ingat ya.
Adinda: Mas Bayu pasti di situ sakit banget karena aku ya?
Bayu Hening: Apa saat terakhir itu, kamu masih sedang ada hubungan dengan orang lain?
Adinda: Mas..maafin aku. Saat itu aku di persimpangan. Aku nggak tau apa yang kita berdua sedang jalani. Malam-malam dengan genggaman tangan, sementara aku masih terikat kata cinta dengan seseorang yang aku nggak tau ada di mana. Aku tersia-sia. Dan karena Mas Bayu juga tidak menyatakan apapun, aku merasa semakin nggak pantas. Buat apa aku berada di sana, semua serba nggak jelas. Jangan-jangan aku malah hanya menyulitkan Mas Bayu. Aku takut.
Bayu Hening: Aku bukan tipe laki-laki yang pandai merayu dan banyak bicara. Aku cuma melakukannya karena aku merasa ada "rasa dan niatan". Bukan cuma ingin pacaran. Aku berusaha mendekati kamu dan aku paham, kamu dingin menanggapiku. Kamu ada, tapi fikiranmu seperti tidak bersamaku. Jadi, terakhir di Selasar itu, aku yakin bahwa aku nggak bisa meraih kamu. Semua seperti mimpi.
Adinda: Tapi justru detik-detik itu yang paling menyakiti aku. Aku nggak ingin pergi, tapi seperti tidak diinginkan di situ.
Bayu Hening: Mungkin kamu nggak merasa bahwa akupun tetap mencari sosok Adinda yang kukenal di pelataran kampus dan yang terakhir kutemui di Selasar. Tapi sekian lama mencari, Adinda itu sudah tidak ada kabarnya lagi. Langkah itu aku hentikan.
Adinda: Sejatinya aku nggak dingin seperti yang Mas Bayu bilang. Hidupku amat komplikasi saat itu. Keluarga yang tidak kondusif. Kisah cinta yang digantung-gantung. Hidupku hancur saat itu.
Bayu Hening: Miranda, sangat cemburu sama kamu. Aku pernah cerita tentang siapa kamu. Mungkin alasan itu juga dia pergi menyelingkuhi aku. Aku memang nggak bisa ngomong kata'sayang' tapi aku melakukan apapun karena aku punya rasa itu, buat kamu. Kalau di mata kamu saat itu aku nggak acuh, bagaimana dengan permintaanku waktu aku minta ke rumah kamu. Kamu nggak pernah izinkan kan? Yaa..aku tau dirilah.
Adinda: Bukan gitu Mas. Saat itupun aku seperti dalam pelarian. Aku sendiri enggan pulang. Rumah bukan tempat yang menyenangkan untukku saat itu. Dan aku nggak mau Mas Bayu tau tentang betapa buruknya hidupku.
Bayu Hening: Sayang aku waktu itu ke kamu benar-benar tidak kenal kondisi keluarga kamu.

(Aku kelu. Jari-jemariku kaku. Ada air mata, hangat berderai di pipi demi menatapi jawabannya di monitor. Aku terluka, kian menganga. Mengetahui semua ini amat membakar jantungku)

Adinda: Tapi..Mas Bayu nggak pernah tanya tentang hatiku. Mas Bayu nggak pernah bilang bagaimana perasaan Mas Bayu padaku. Aku butuh kebenaran. Aku cuma lihat Mas Bayu adalah orang yang sangat bebas. Datang dan pergi, bicara dan bertingkah sesuka hati. Aku pastilah bukan pilihan.
Bayu Hening: Memang selama kamu jalan sama aku, apa kamu nggak lihat kelakuanku yang seperti orang serba salah? Aku salah tingkah tiap kali tangan kita bersentuhan.
Adinda: Seperti orang yang serba salah? Perasaan aku diledekin terus selama jalan? Aku jadi merasa kaya anak ingusan. Makanya aku nggak berani bilang. Aku seperti cuma bahan lelucon, sekedar angin lalu.
Bayu Hening: Aku kehilangan kamu dan saat kamu kembali, aku melihat kamu bahagia. Kamu pergi. Dan kamu bisa lihat juga aku ditinggal Miranda. Jadi tidak ada yang salah kecuali diriku sendiri. Untung saja, Tuhan nggak membuatku jadi gila.
Bayu Hening: Aku bukan orang bebas seperti yang kamu ungkap tentang aku tadi. Aku cuma nggak mau terpuruk dan terjatuh terlalu dalam pada hal yang tidak mungkin aku jalani.
Adinda: Aku minta maaf. Aku rindu. Dan aku senang menangis karena rindu ini. Terima kasih untuk semua kenangan manis itu.
Bayu Hening. Berbahagialah, Adinda, selalu.
                Room chat kututup. Aku klik sebuah nama: Bayu Hening. Aku klik kanan, mencari letak sebuah perintah: DELETE. Komputer ku-shutdown. Kusongsong suamiku pulang. Cinta merah jambu, terbingkai abadi. Menyala manis, selamanya tak berbalas.(*)
        
























*Aku paham cerpen ini masih butuh revisi. Sabarlah menunggu. Terima kasih.