Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 05 Juli 2012

Sedikit refleksi dari Sumpe' Loh Ini Namanya Zine?! #4

Hidupku yang kacau atau aku yang gagal mengendalikan hidup?

Setelah orangtuaku pisah, aku memulai hidup baruku. Dengan harapan baru dan nafas hidup yang baru. Kata orang, tahun baru adalah awal kita memulai lembaran hidup yang baru. Tapi, sepertinya kata-kata itu tidak berlaku untukku.

Aku terpaksa menghentikan kuliahku karena menolak dibiayai bapak. Aku berusaha keras mencari kerja agar dapat membiayai hidupku sendiri. Juga untuk membantu ibu yang praktis setelah pisah dengan bapak, tidak memiliki pemasukan apapun. Berbulan-bulan aku terlunta-lunta. Dari rumah saudaraku yang satu sampai ke rumah singgah lainnya. Sampai pada akhirnya seorang kerabat jauh menawariku sebuah posisi freelance di redaktural sebuah majalah anak-anak. Langsung saja aku terima tawaran itu.

Walaupun tak punya bekal cukup, aku nekat memberanikan diri untuk menulis. Jelek-jelek begini, aku sudah menulis cerpen sejak SMP dan pernah menang lomba menulis kisah cinta di sebuah lomba.

Beberapa cerpen kutawarkan ke pemred agar bisa dimuat. Aku juga menulis beberapa artikel untuk edisi perdana majalah tersebut. Tak kusangka ternyata diterima. Yah..walaupun naskahku tidak seluruhnya orisinal alias direvisi kembali oleh sang editor. Dan artikelku diubah, semi total. Tapi aku nggak mau menyerah secepat itu. Memang sempat beberapa kali aku kecewa dan bahkan menangis. Tapi aku terus mencoba. Sampai edisi ke-4 saat ini. Ada rasa puas luar biasa dalam diriku.

Mungkin itulah yang bisa kubanggakan. Sebenarnya dari setiap tahapab hidupku, aku selalu merasa gagal. Hampir setiap saat aku merasa tidak mampu. Sebelum memulai pekerjaan saja aku sudah ketakutan setengah mati. Kalah sebelum berperang. Hingga kadang aku harus menunggu dimarahi dulu agar.otakku panas. Isilahnya, aku harus dipancing dulu. Nah, itu dia yang kusesalkan sampai saat ini. Kenapa ya, aku sulit sekali memotivasi diri.

Kegagalan itu datang silih berganti. Menjadi masalah yang datang seakan tanpa henti. Aku memang boleh bangga karena di usia semuda ini dan dalam keadaan yang tidak sebaik orang lain, aku sudah bisa menghidupi diriku sendiri. Tapi apa imbasnya? Aku hilang kendali.

Seharusnya aku bisa membantu ibu lebih banyak atau juga menyimpan uangku agar bisa kupakai di lain waktu bila kuperlu. Tapi aku nggak begitu. Baru saja gempokan uang itu kuterima, besoknya aku sudah sibuk cari hutangan untuk makan. Nah lo! Padahal aku juga tidak menghabiskan uang-uang itu untuk membeli sesuatu yang berarti. Lihat saja, hidupku tidak jauh lebih baik.

Seseorang bilang, ini memang sudah uratku. Dulu aku tidak pernah punya uang banyak, maka sekarang, hal itupun terjadi lg. Seakan aku memang ditakdirkan untuk selalu miskin dan tidak boleh punya uang. Benarkah begitu?

Sekarang aku kebingungan. Ibu meminta bantuanku untuk memulai usaha. Dia butuh modal yang tidak sedikit. Lalu aku bisa apa? Ternyata aku NOL! Aku gagal membantunya. Aku tidak bisa diandalkan. Padahal aku ingin sekali membuatnya bangga. Karena, siapa lagi yang bisa membuatnya bahagia selain aku, putri tunggalnya.

Ah..aku nggak mau begini terus. Aku harus pegang kembali kendali penuh atas hidupku. Memangnya siapa lagi yang bisa menolongku kalau bikin aku. Ibu yang sangat kusayangipun tidak akan sudi kalau hidupku terus-terusan kacau begini.

Baiklah kalau begitu. Aku akan berubah. Mungkin perlahan, tapi aku harus. Meskipun aku belum bisa apa-apa, maka aku harus bisa satu saat nanti. Masih banyak orang yang jauh lebih susah. Dan anehnya di luar sana banyak sekali orang yang lebih menyedihkan. Kenapa? Ya, karena mereka lebih menyia-nyiakan kesempatan waktu, uang, dan hidup mereka hanya untuk kesenangan semu.

Bukankah mereka seharusnya lebih bersyukur daripada aku? Bukankah mereka sebaiknya lebih menghargai hidup mereka yang sekejap saja bisa jatuh menyedihkan? Ah, kasihan sekali mereka. Ah, lebih kasihan lagi aku yang mengasihani mereka.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Send me your words