Ada kesalahan di dalam gadget ini

Rabu, 28 Juli 2010

Mulutmu, harimaumu.


Teman saya yang belum menikah, bertubi-tubi meng-sms saya pagi ini. Biasalah, curhat. Tapi kali ini ia begitu geram karena kelakuan sang pacar yang bekerja di luar kota. Karena berpacaran jarak jauh, teman saya jadi tidak bisa mengontrol apa-apa saja yang dilakukan kekasihnya nun jauh di sana. Maka terbukalah tabir kelabu itu dengan ulah salah kirim sms yang tak sengaja dikirimkan sang pacar ke hpnya padahal maksudnya ke rekan kerja yang biasa dipanggil “Cantik.”
Maka kalaplah teman saya. Cemburu berat dia, terbakar hatinya. Seharian ia mengontak pacarnya dan marah-marah. Di ujung semua kejadian itu, pacarnya ternyata tak tahan juga menahan emosinya, dan keluarlah kata-kata kotor yang amat menyakitkan didengar di telinga siapapun. Teman saya yang saya kenal amat perasa ini, hancur. Ia menelepon saya dengan berderai air mata. Awalnya saya tidak yakin bagaimana pacarnya berani bersikap itu. Tapi lebih kaget lagi ketika teman saya mulai menceritakan kejadian-kejadian lainnya. Ternyata ini bukan yang pertama. Lalu mengapa dipertahankan, tanya saya. Sulit dipercaya jawabannya adalah karena teman saya sangat menyukai figur calon mertuanya, dan ia ingin sang kekasih bisa menjadi bapak seperti calon mertuanya kelak. Hm… rumit juga ya hati perempuan....
Saya merasa iba pada sahabat saya ini. Ia mempertahankan kesetiaan cintanya pada sang pacar yang sebetulnya memang kasar, karena sudah terlanjur jatuh cinta pada aura keluarga mertua. Padahal siapa yang akan dinikahinya nanti? Tidak ada siapapun kecuali si pacar yang menurutnya, sangat egois dan tidak mau kalah. Lalu bagaimana cara mereka melangkah lebih lanjut ke tahap yang lebih sulit jika saat ini, pondasinya saja tidak kuat. Sementara bila kita telah melangkah, kita tak akan bisa kembali lagi. Mungkin sekarang mereka bisa saling pergi dan berdiam diri ketika cekcok, tapi nanti, pergi berarti menghancurkan rumahtangga. Yang tersisa hanya penyesalan belaka.
Tak dipungkiri, saya dan suami pun sering sekali menghadapi ketidakcocokan ini. Dua tahun pernikahan bukanlah ujian yang mudah untuk dilewati. Apalagi kami masih sama-sama berusia muda. Emosi kami masih amat labil. Ia dengan sifat kelelakiannya yang ingin dipatuhi sebagai suami, dan saya dengan sifat keperempuanan saya yang ingin selalu didahulukan. Kalau dilihat, mungkin kami selalu berseberangan. Masing-masing merasa benar. Padahal masalah yang kami hadapi juga tak semuanya penting, kadang-kadang sepele. Tapi pertengkaran itu bisa menjadi amat dahsyat, bahkan kami pernah pisah rumah ketika bayi kami berusia 4 bulan. Pedih dan memalukan.
Terkadang saya merasa menyesal telah memilih menikah, di usia dini khususnya. Saya selalu menyalahkan Tuhan ketika kami berkelahi. Saya tidak mengerti apa mau Tuhan membawa saya sampai sejauh ini hanya untuk merasa sakit. Suami juga merasa lelah menjalani hubungan kami yang semakin buruk. Kami berdua merasa di-dzalimi kehidupan. Tapi beginilah adanya hidup ini. Menyesal saja tak cukup karena kami harus tetap menjalani semua, meski sakit dan perih hati tersayat.
Bersyukurnya saya, suami saya tak ada bakat kelahi dengan senjata kata-kata kotor. Separah apapun ia marah, ia akan diam. Pernah sekali ia tak mampu menahan kesal, ia justru memukuli dirinya sendiri. Katanya itu lebih baik daripada jadi pengecut yang memukuli istri. Ya, cara orang mengendalikan emosi memang beda-beda, tapi jangan sampai emosi ini membuat Anda menyakiti orang lain.
Baru belakangan ini kami memperbaiki anger management kami. Kami sadar bahwa tidak benar selalu memenangkan ego dan emosi sendiri. Telinga harus diperbesar, harus lebih peka dan lebih baik sebagai pendengar. Bahkan sekarang-sekarang ini, saya dan suami punya naluri untuk “dulu-duluan” meredakan emosi dan cooling down. Saya lebih pilih diam dan kembali menemani si kecil, sementara suami memilih menenangkan diri dengan menghabiskan sebatang rokok dan setelah itu baru kami kembali bicara lagi dengan pikiran yang lebih jernih. Biasanya di sini kami akan bicara panjang lebar sampai kami berdua ngantuk dan akhirnya pergi tidur tanpa masalah. Ya itulah sekilas cara menyelesaikan masalah versi kami.
Tapi sungguh, mengumpat dengan kata-kata kotor adalah kejahatan. Ini adalah salah satu bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang senjatanya adalah kata-kata yang menyakitkan atau verbal abuse. Selain terjadi pada pasangan suami istri, verbal abuse juga terjadi pada anggota keluarga lainnya. Pada anak, pada pembantu rumah tangga, atau juga anggota yang lainnya. Dan tahukah Anda, efek verbal abuse ini ternyata amat berbekas. Mungkin tidak terlihat nyata secara fisik, tapi justru melukai hati dan psikologis seseorang. Dan bukankah sakit hati lebih menyakitkan daripada sakit gigi? Karena verbal abuse bisa membuat seseorang menjadi kehilangan rasa percaya diri, merasa tidak dicintai dan tak berguna lagi, merasa tak pantas hidup karena dicap amat buruk, dan bukanlah tidak mungkin verbal abuse ini dapat menghancurkan hidup seseorang hingga ia akhirnya memutuskan untuk mati saja karena perasaan sedih yang teramat sangat. Atau mungkin saja verbal abuse ini dapat memotivasi seseorang untuk menyerang balik. Masih ingat kasus seorang istri yang memutilasi suaminya sendiri? Saya yakin si istri bukan tidak punya alasan melakukannya. Pasti peristiwa ini dimulai dengan verbal abuse yang dialaminya. Bayangkan, sampai sehebat itu kekuatan kata-kata! Padahal keluarnya mudah sekali ya dari mulut kita! Kalau tidak mau menjadi korban, maka jangan pernah jadi pelaku.
Saya tekankan pada teman saya bahwa tidak mungkin memulai mahligai rumahtangga bila pacarnya masih bersifat seperti itu. Bukannya ingin menakuti, tapi bila nanti verbal abuse sudah menjadi makanan sehari-hari, jangan-jangan kekerasan fisik juga akan terjadi. Lalu siapa yang paling tersakiti? Kita sendiri. Teman saya pun mengerti dan berjanji akan memikirkan semua dengan lebih baik lagi sebelum semua terlambat.
Saya rasa siapapun harus belajar meredakan emosi dan melihat sebuah masalah dari paradigma yang lebih bijaksana. Setiap orang juga patut me-management anger-nya agar tidak kebablasan. Ajak suami kita, ajarkan pada buah hati kita, dan siapapun yang berada di sekitar kita agar selalu meggunakan bahasa yang baik. Hati-hati menggunakan kata-kata. Penting sekali untuk berempati dan menghargai perasaan orang lain. Kontrol diri menjadi kunci agar Anda tetap positif. Mulai dari sekarang, sebelum kata-kata itu membakar orang-orang yang kita sayangi. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Send me your words