Ada kesalahan di dalam gadget ini

Rabu, 28 Juli 2010

Mommy, I miss you.


Pagi. Hujan. Dingin.
Siang. Hujan. Beku.
Sore. Hujan. Flu.
Malam. Hujan. Bersin.
Hatsyiiih..

Slurp..
Lendir hingus di hidung, saya tarik kembali. Dada saya sesak, saluran nafas saya pasti tertutup lendir. Saya kesulitan menghirup oksigen.

Saya jadi ingat Ibu. Waktu dia masih di sini, biasanya dia yang marah2 karena saya sakit. Saya disebutnya tidak bisa jaga diri. Katanya, bagaimana mungkin saya bisa menjaganya kalau saya sendiri rapuh. Biasanya dia akan marah2, karena kalau saya sakit, saya tidak bisa membantunya. Menebar benih2 harapan, merawat indahnya cita2 kami berdua, lalu menuai mimpi2 yang jadi nyata. Semua akan ia kerjakan sendiri. Sementara saya hanya akan terbaring lemah di tengah ranjang kayu coklat yang kayunya menjadi abu, sambil mengeluh lirih, "Ibu.. Ibu, milikku seluruh."

Maka Ibu akan datang mengiba. Membalurkan gosokan balsam di punggung saya, meneliti apakah saya masih anaknya.
Merapatkan selimut garis merah-kuning di badan saya, meyakinkan kalau2 saya masih anaknya.
Membacakan do'a padaNya agar saya cepat sembuh, mensyukuri saya adalah benar2 masih anaknya.

Tapi kini Ibu pergi. Ibu pergi meninggalkan rumahtangga kami. Hatinya sakit, tapi bukan sakit flu seperti saya. Katanya sakitnya lebih buruk daripada itu. Cintanya berdarah karena lelakinya menghianati.
Saya merelakan Ibu pergi. Karena saya yang menyaksikan semua, tahu benar ia tidak salah. Ibu berhak meninggalkan semua ini. Saya sebagai perempuan tentu juga akan berdarah bila lelaki kami berubah menjadi setan. Saya mendukungnya walau kami tak bisa lagi hidup bersama layaknya keluarga. Dan disinilah malam ini. Sendiri, tanpa Ibu.

Saya senang Ibu senang. Saya tenang Ibu tenang. Saya yakin perpisahan Ibu dengan cintanya adalah keputusan terbaik untuk dirinya. Betapa saya mencintai Ibu. Saya lakukan apapun demi bahagianya. Tak sampai hati bila air matanya tumpah. Jangan sampai! Saya tidak rela! Dia Ibu saya, segalanya!


Slurp..
Lendir hingus ini benar2 mengganggu.

Saya jadi rindu pada Ibu. Rindu yang teramat, sangat! Rindu marah2nya, rindu doa2nya, rindu pada susu yang dia alirkan di tiap2 nadi saya. Mengapa merindukannya kini menjadi hal yang amat memilukan hati?

Ini sudah larut, rindu saya tak kunjung surut. Di tengah ranjang kayu coklat yang kayunya menjadi abu, dengan selimut garis merah-kuning, tapi sayang tak ada yang membalurkan gosokan balsam di punggung saya, SAYA MENANGISI IBU! Titik..air mata menitik, kemudian menjadi sungai, air mata tumpah.

Di mimpi saya, Ibu datang, membisikkan cinta:
"Putriku, tidurlah lelap. Besok jemput matahari. Bangun hidupmu, lalu jemput Ibu. Kita panen mimpi2 kita. Jadikan nyata ya, darah dagingku. Besok pagi ada susu, mengalir di setiap nadimu. Ibu selalu bersamamu."

*ketika masih gadis dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Send me your words