Minggu, 02 Oktober 2011
Balada ibu yang belajar ikhlas dengan ikhlas.
Kepalaku masih berat rasanya
Seperti mataku juga
Tapi di sana terbingkai indah kehadiranMu semalam
Yaitu ketika kesulitan ini telah demikian menjadi-jadi
Lalu kepala telah tertukar dengan kaki
Desir anugerahMu hadir membisiki pelan
Tapi, aku tetap pusing
Karena kepalang sudah berkunang-kunang
Mulai saat itu, aku tak mampu mengapa
Namun hebatnya aku tak merasa lelah
Hanya saja di hatiku, lahir tanda tanya yang jumawa
"Tuhan, aku mungkin tak patut menyadari Kau baik. Kau selalu memberikan jalan dari semua aral yang melintangku. Tapi selalu saja begini. Di ujung cobaan, Engkau selalu hantar aku menuju arah keluar, tapi sayangnya jalan itu selalu penuh beling belulang. Selalu sakit untuk dipilih. Sepertinya hidup ini Engkau tulis selalu tak mudah untukku."
Hening itu datang di antara pening.
Aku tak mampu tidur, tiada pula mengeluh.
Tapi tiba-tiba saja aku sangat ketakutan. Aku raba leherku dan menggenggamnya erat agar nafas itu tetap mengalir di sana agar aku tiada mati.
Lalu aku bangkit. Berjalan sana kemari. Duduk bersila atau lari berdiri. Tak pula jiwaku tenang.
Menatap cinta-cintaku yang saat itu sudah pulas, segera kugenggam leherku agar aku tak hilang nafas.
Mereka Kau cipta untukku. Betapa Engkau melengkapiku.
Aku harap ada suara pada hening itu, untuk menghilangkan ketakutanku. Kucari tau...
Maju beberapa langkah, menuju mesin air, agar ada suara air mengalir.
Dan seluruh tubuhku selaksa berwudlu.
Dan setiap badanku suci kubasuh.
Dan indahnya mukena emas kawin pernikahanku kupandang. Dan bila kusentuh, rasanya hangat, lembut layaknya nafas yang Kau titip di nadiku.
Dan mukena itu kukena
Dan semua bait itu tercipta.
Air mata saja tak mengotori manisnya sujudku.
Sujud yang syahdu. Sujud kasih sayangMu. Sujud pasrahku. Sujud insan bertabur debu.
Aku mencintaiMu, Illahi.
Bila pagi tiba, bila hidup ini masih milikMu, bila nafas ini masih mengisi jantungku karena ridlaMu,
Jalan Beling Belulang itu akan aku jalani dan akan aku pasrahkan semua langkah itu hanya karena ridlaMu.
Amin.
Seperti mataku juga
Tapi di sana terbingkai indah kehadiranMu semalam
Yaitu ketika kesulitan ini telah demikian menjadi-jadi
Lalu kepala telah tertukar dengan kaki
Desir anugerahMu hadir membisiki pelan
Tapi, aku tetap pusing
Karena kepalang sudah berkunang-kunang
Mulai saat itu, aku tak mampu mengapa
Namun hebatnya aku tak merasa lelah
Hanya saja di hatiku, lahir tanda tanya yang jumawa
"Tuhan, aku mungkin tak patut menyadari Kau baik. Kau selalu memberikan jalan dari semua aral yang melintangku. Tapi selalu saja begini. Di ujung cobaan, Engkau selalu hantar aku menuju arah keluar, tapi sayangnya jalan itu selalu penuh beling belulang. Selalu sakit untuk dipilih. Sepertinya hidup ini Engkau tulis selalu tak mudah untukku."
Hening itu datang di antara pening.
Aku tak mampu tidur, tiada pula mengeluh.
Tapi tiba-tiba saja aku sangat ketakutan. Aku raba leherku dan menggenggamnya erat agar nafas itu tetap mengalir di sana agar aku tiada mati.
Lalu aku bangkit. Berjalan sana kemari. Duduk bersila atau lari berdiri. Tak pula jiwaku tenang.
Menatap cinta-cintaku yang saat itu sudah pulas, segera kugenggam leherku agar aku tak hilang nafas.
Mereka Kau cipta untukku. Betapa Engkau melengkapiku.
Aku harap ada suara pada hening itu, untuk menghilangkan ketakutanku. Kucari tau...
Maju beberapa langkah, menuju mesin air, agar ada suara air mengalir.
Dan seluruh tubuhku selaksa berwudlu.
Dan setiap badanku suci kubasuh.
Dan indahnya mukena emas kawin pernikahanku kupandang. Dan bila kusentuh, rasanya hangat, lembut layaknya nafas yang Kau titip di nadiku.
Dan mukena itu kukena
Dan semua bait itu tercipta.
Air mata saja tak mengotori manisnya sujudku.
Sujud yang syahdu. Sujud kasih sayangMu. Sujud pasrahku. Sujud insan bertabur debu.
Aku mencintaiMu, Illahi.
Bila pagi tiba, bila hidup ini masih milikMu, bila nafas ini masih mengisi jantungku karena ridlaMu,
Jalan Beling Belulang itu akan aku jalani dan akan aku pasrahkan semua langkah itu hanya karena ridlaMu.
Amin.
Bunda Proud Of You, Son
Kepenatan saya hari ini, kelar urusannya setelah disuguhi sebuah kepintaran baru Ganesh yang bertambah satu, hari ini.
Ketika itu, saya baru saja selesai menyuapinya makan malam. Dan tentu saja, yang namanya Ganesh kalau makan tetap saja sulit diam. Juga mulut saya tetap saja mengoceh sampai tumbuh daun. Sesi ribet menyuapi ini selesai. Suapan terakhir saya masih menyumpal di mulut Ganesh, dan dia sudah mulai mengoceh lagi.
Tadinya saya cuek dengan celotehannya, karena ini giliran saya yang makan, saya fokus pada piring saya. Tiba-tiba, Ganesh duduk di samping saya, masih dengan mengoceh. Tapi kali ini dia mengajak saya bicara. Agak malas sebenarnya saya. Tapi tak disangka, inilah momen penting saya menjadi ibunya.
"Bunda, alo' bunda, patuwi..."
Berhenti sebentar. Saya juga berhenti, berusaha mencerna apa yang diucapkannya. Kata terakhirnya mirip badui, tapi dengar dari mana anak ini tentang badui.
Saya hanya menjawab iya, pura-pura mengerti, padahal saya belum ngeh arti kalimatnya. Ternyata, Ganesh melanjutkan.
"Alo ayah, gulumilang."
Wahahahaha! Saya tertawa sampai menangis! Ternyata Ganesh menyebutkan nama saya dan ayahnya.
"Jadi, kalo Bunda, Pratiwi. Kalo Ayah, Gurumilang ya Dek?" kata saya mengulang perkataannya.
"Iya," jawabnya.
Dan semua lelah itu terbayar sudah. Saya bangga. :)
Ketika itu, saya baru saja selesai menyuapinya makan malam. Dan tentu saja, yang namanya Ganesh kalau makan tetap saja sulit diam. Juga mulut saya tetap saja mengoceh sampai tumbuh daun. Sesi ribet menyuapi ini selesai. Suapan terakhir saya masih menyumpal di mulut Ganesh, dan dia sudah mulai mengoceh lagi.
Tadinya saya cuek dengan celotehannya, karena ini giliran saya yang makan, saya fokus pada piring saya. Tiba-tiba, Ganesh duduk di samping saya, masih dengan mengoceh. Tapi kali ini dia mengajak saya bicara. Agak malas sebenarnya saya. Tapi tak disangka, inilah momen penting saya menjadi ibunya.
"Bunda, alo' bunda, patuwi..."
Berhenti sebentar. Saya juga berhenti, berusaha mencerna apa yang diucapkannya. Kata terakhirnya mirip badui, tapi dengar dari mana anak ini tentang badui.
Saya hanya menjawab iya, pura-pura mengerti, padahal saya belum ngeh arti kalimatnya. Ternyata, Ganesh melanjutkan.
"Alo ayah, gulumilang."
Wahahahaha! Saya tertawa sampai menangis! Ternyata Ganesh menyebutkan nama saya dan ayahnya.
"Jadi, kalo Bunda, Pratiwi. Kalo Ayah, Gurumilang ya Dek?" kata saya mengulang perkataannya.
"Iya," jawabnya.
Dan semua lelah itu terbayar sudah. Saya bangga. :)
Tema Besar Hidupku
Aku masih berjuang melawan stres yang mengangkang di mentalku. Yang terasa, perjuangan itu seakan terjawab dan semakin membuahkan hasil, meski kecil-kecil.
Hingga suatu pagi, aku terbangun dengan pening karena flu semalam. Suami sudah pergi sejak subuh tadi. Lagi-lagi, hanya keheningan yang terasa di tempat tidur. Tiada apapun di sekeliling, hanya anakku yang masih terlelap dengan piyamanya. Wajahnya bersih, polos, manis sekali.
Lalu timbul pertanyaan, "Apakah hari ini akan berbeda dari kemarin-kemarin? Apakah hari ini tetap depresi? Apakah anak ini akan kuaniaya lagi? Apakah aku manusia hari ini?"
Tak terjawab, akupun membenamkan diri dalam sejuta tugas ibu rumahtangga. Kegiatan mencuci yang membuat kepala terasa berputar tak henti. Membersihkan rumah, ya sedikit menenangkan hati karena setiap sudut bersih kini. Juga memasak, menyiapkan santapan bila si kecil bangun dan merasa lapar nanti. Belum selesai semua, anakku bangun.
"Bunda, Ganesh mau makan," maka terpaksalah kukebut masakku. Lalu mandi, kemudian menyuapi, barulah bisa menaruh pantat di kursi setelah rentetan kerja keras tadi. Haah, enaknya. Badan terasa lelah. Dan duduk ini seakan menjadi rezeki yang amat agung karena saking nikmatnya.
Tapi tak lama, karena tiba-tiba Ganesh pulang dengan menangis. Di mulutnya ada pasir dan air berwarna hitam. Badannya pun kotor, seperti belepotan air selokan. Oh, rupanya Ganesh jatuh ke selokan di depan rumah saat tadi main dengan teman-temannya.
Darahku naik. Tapi kuperhatikan dia tidak menangis kencang, hanya mulut saja komat-kamit sibuk meludahkan kotoran dari mulutnya. Berarti jatuhnya tidak sakit.
Aku tanya kenapa, Ganesh tidak jawab. Masih sibuk meludah. Aku bawa ke kamar mandi, buru-buru kubersihkan mulutnya. Sesaat aku mau marah, tapi Ganesh justru dengan cerianya bercerita, tepat ketika mulutnya selesai kubersihkan.
"Tadi main mbem-mbeman (mobil-mobilan), eh Kak Bian (tetangga kami) dolong mobil Dede, eh Dede jatoh, duk! gitu."
Aku menatapnya. Ganesh tidak memikirkan sakitnya. Pergi main ke luar rumah selalu menyenangkan buatnya, karena disana ia refreshing. Kasihan juga selalu memenjaranya di rumah.
Akhirnya aku luluh. Marah-marah juga rasanya tak guna. Ini tentu bukan salah Ganesh, iapun juga tak mau. Dan mungkin kalau ia bisa mandi sendiri, ia juga tak mau merepotkanku untuk memandikannya. Akulah satu-satunya pusat kehidupannya.
Aku tersentuh. Ganesh telah memberiku pelajaran.
Siapapun bisa jatuh hingga terpuruk. Jatuh itupun telah ditakdirkan Tuhan jauh sebelum kita lahir. Tapi ternyata Ia tak sekedar menjatuhkan kita dalam cobaanNya yang tersulit, karena di antara badaiNya, Ia tetap menyayangi kita. Ia kirimkan malaikat-malaikatnya untuk menggenggam dan menguatkan kita agar kita bangkit keluar dari badai. Dan tentu akan sangat berarti, bila kitapun bisa menjadi penuntun bagi setiap orang yang tengah diterpa badai hingga selamat dari semua itu. Seperti aku, artiku untuk si kecil Ganesh.
Maka kupadamkan amarahku karena kenakalan Ganesh pagi ini.
"Gapapa Ganesh jatoh, kan bisa dibersihkan Bunda. Tapi Ganeshnya seneng nggak?" tanyaku di ujung peristiwa.
"Seneng donk," jawabnya sambil tersenyum.
Hatiku tenang. Dan duduk lagi, mensyukuri rezeki.*
Hingga suatu pagi, aku terbangun dengan pening karena flu semalam. Suami sudah pergi sejak subuh tadi. Lagi-lagi, hanya keheningan yang terasa di tempat tidur. Tiada apapun di sekeliling, hanya anakku yang masih terlelap dengan piyamanya. Wajahnya bersih, polos, manis sekali.
Lalu timbul pertanyaan, "Apakah hari ini akan berbeda dari kemarin-kemarin? Apakah hari ini tetap depresi? Apakah anak ini akan kuaniaya lagi? Apakah aku manusia hari ini?"
Tak terjawab, akupun membenamkan diri dalam sejuta tugas ibu rumahtangga. Kegiatan mencuci yang membuat kepala terasa berputar tak henti. Membersihkan rumah, ya sedikit menenangkan hati karena setiap sudut bersih kini. Juga memasak, menyiapkan santapan bila si kecil bangun dan merasa lapar nanti. Belum selesai semua, anakku bangun.
"Bunda, Ganesh mau makan," maka terpaksalah kukebut masakku. Lalu mandi, kemudian menyuapi, barulah bisa menaruh pantat di kursi setelah rentetan kerja keras tadi. Haah, enaknya. Badan terasa lelah. Dan duduk ini seakan menjadi rezeki yang amat agung karena saking nikmatnya.
Tapi tak lama, karena tiba-tiba Ganesh pulang dengan menangis. Di mulutnya ada pasir dan air berwarna hitam. Badannya pun kotor, seperti belepotan air selokan. Oh, rupanya Ganesh jatuh ke selokan di depan rumah saat tadi main dengan teman-temannya.
Darahku naik. Tapi kuperhatikan dia tidak menangis kencang, hanya mulut saja komat-kamit sibuk meludahkan kotoran dari mulutnya. Berarti jatuhnya tidak sakit.
Aku tanya kenapa, Ganesh tidak jawab. Masih sibuk meludah. Aku bawa ke kamar mandi, buru-buru kubersihkan mulutnya. Sesaat aku mau marah, tapi Ganesh justru dengan cerianya bercerita, tepat ketika mulutnya selesai kubersihkan.
"Tadi main mbem-mbeman (mobil-mobilan), eh Kak Bian (tetangga kami) dolong mobil Dede, eh Dede jatoh, duk! gitu."
Aku menatapnya. Ganesh tidak memikirkan sakitnya. Pergi main ke luar rumah selalu menyenangkan buatnya, karena disana ia refreshing. Kasihan juga selalu memenjaranya di rumah.
Akhirnya aku luluh. Marah-marah juga rasanya tak guna. Ini tentu bukan salah Ganesh, iapun juga tak mau. Dan mungkin kalau ia bisa mandi sendiri, ia juga tak mau merepotkanku untuk memandikannya. Akulah satu-satunya pusat kehidupannya.
Aku tersentuh. Ganesh telah memberiku pelajaran.
Siapapun bisa jatuh hingga terpuruk. Jatuh itupun telah ditakdirkan Tuhan jauh sebelum kita lahir. Tapi ternyata Ia tak sekedar menjatuhkan kita dalam cobaanNya yang tersulit, karena di antara badaiNya, Ia tetap menyayangi kita. Ia kirimkan malaikat-malaikatnya untuk menggenggam dan menguatkan kita agar kita bangkit keluar dari badai. Dan tentu akan sangat berarti, bila kitapun bisa menjadi penuntun bagi setiap orang yang tengah diterpa badai hingga selamat dari semua itu. Seperti aku, artiku untuk si kecil Ganesh.
Maka kupadamkan amarahku karena kenakalan Ganesh pagi ini.
"Gapapa Ganesh jatoh, kan bisa dibersihkan Bunda. Tapi Ganeshnya seneng nggak?" tanyaku di ujung peristiwa.
"Seneng donk," jawabnya sambil tersenyum.
Hatiku tenang. Dan duduk lagi, mensyukuri rezeki.*
Catatan Depresi
Kunamai hari ini adalah "Hari yang sangat huuffth.."
3 tahun sudah aku di rumah dan tak melakukan apapun. Tidak kreatif, tidak produktif, bahkan tidak senang-senang juga. Sama sekali stagnan dan jenuh. Hanya mengurus anak dan mengurus rumahtangga. Betapa jenuhnya, hingga tegangan tinggi sampai ke ubun-ubun. Seringkali stres itu meledak dan selalu saja orang-orang terdekatku yang menjadi korban. Padahal merekalah yang paling kusayang tapi parahnya, mereka sekaligus menjadi sasaran pelampiasan kemarahanku. Tak hanya kepada mereka, akupun ternyata telah menyakiti diriku sendiri.
Aku adalah pengidap asma dan tanpa kusadari, semakin aku stres, semakin parahlah asmaku bila kambuh. Semua tempat pusat kesehatan yang kudatangi tak membenarkan jika aku adalah pasien asma. Mereka semua menyatakan sesak nafasku terjadi karena beban pikiran. Padahal aku sangat tersiksa bila asma ini tiba. Rasanya sakit minta ampun, seperti sakaratul. Batas antara bertahan hidup dan kematian itu rasanya teramat tipis sekali. Hanya berbatas sebuah nafas, dan nafas itu begitu tipis layaknya benang piano. Bila meregang dan ditarik sedikit saja, putuslah, hilanglah sudah nyawaku.
Namun anehnya, aku selalu mengatakan ingin mati saja ketimbang memperbaiki semua. Padahal konsep berkeluargaku amat jelas, lengkap pula fasilitas, ide-ide agar merasa lebih hidup juga mengalir deras, namun semangat itu, memuai dimana entah.
Aku mendatangi banyak orang, mengeluhkan pada mereka tentang kemunduran hidupku ini, dan semua orang justru pergi. Kata mereka, justru akulah yang tengah membunuh diriku sendiri dengan selalu bersikap negatif begini.
Akupun kesal pada diriku sendiri. Apakah yang terjadi pada dirikupun, aku tak mengerti. Duniaku berjalan mundur, dan berubah menjadi kelam pekat yang hanya berisi air mata dan kemarahan. Semua hal yang manis dan ceria dulu, hilang.
Anakku adalah korban paling utama yang nomor satu paling menderita dengan sakit jiwaku ini. Sebenarnya ia adalah anak laki-laki yang manis. Rambutnya keriting, bermata besar, hidung jambu, dan bibir merah mungil, giginya rapih rata seperti ayahnya. Di usia 3 tahunnya, ia telah menunjukkan kecerdasannya. Banyak sekali hal yang ditanyakannya, ia cerewet, dan ia senang sekali menyanyi. Seharusnya aku bahagia membesarkannya. Tapi lebih seringnya, anugerah Tuhan ini, kuaniaya.
Sampai kapanpun dan bila kutanyakan pada siapapun di dunia ini, pastilah aku yang salah. Akulah yang memang tak mampu menjadi ibu yang baik. Bocah lelaki seusianya memang sedang lincah, sedang cerewet, dan sedang nakal-nakalnya. Khasnya balita. Tapi bagaimana dengan anakku? Aku memukulinya. Seringkali, aku justru ketakutan karena setiap kali aku memukulinya, ia akan menangis, lalu tidur, dan kukira ia telah mati. Aku menjadi amat paranoid. Dan ini terjadi tak hanya sekali dua.
Hari ini, aku ditampar dengan berita tentang bayi bernama Feri yang dianiaya ibunya. Aku merasa mual ketika melihat di layar televisi, Feri dengan seluruh tangan dan sekaligus kakinya terpaksa di-pen, karena patah semua tulangnya. Lalu kulihat anakku, apakah aku tega membuatnya menjadi seperti Feri yang malang? Siapakah aku yang selama ini menghajar anakku bila ia sedikit saja melakukan kesalahan? Apa hakku yang melampiaskan semua frustasiku pada anakku padahal aku susah payah melahirkannya dulu? Sudah tak punya hatikah aku? Sementara melihat berita bayi Feri, aku menitikkan air mata, lalu kemana kasih sayangku terhadap anakku sendiri, jika aku selalu menjadikannya bulan-bulanan stres yang kualami? Masihkah aku manusia atau sudah menjadi setan kini? Tidddaaaakk!!
3 tahun sudah aku di rumah dan tak melakukan apapun. Tidak kreatif, tidak produktif, bahkan tidak senang-senang juga. Sama sekali stagnan dan jenuh. Hanya mengurus anak dan mengurus rumahtangga. Betapa jenuhnya, hingga tegangan tinggi sampai ke ubun-ubun. Seringkali stres itu meledak dan selalu saja orang-orang terdekatku yang menjadi korban. Padahal merekalah yang paling kusayang tapi parahnya, mereka sekaligus menjadi sasaran pelampiasan kemarahanku. Tak hanya kepada mereka, akupun ternyata telah menyakiti diriku sendiri.
Aku adalah pengidap asma dan tanpa kusadari, semakin aku stres, semakin parahlah asmaku bila kambuh. Semua tempat pusat kesehatan yang kudatangi tak membenarkan jika aku adalah pasien asma. Mereka semua menyatakan sesak nafasku terjadi karena beban pikiran. Padahal aku sangat tersiksa bila asma ini tiba. Rasanya sakit minta ampun, seperti sakaratul. Batas antara bertahan hidup dan kematian itu rasanya teramat tipis sekali. Hanya berbatas sebuah nafas, dan nafas itu begitu tipis layaknya benang piano. Bila meregang dan ditarik sedikit saja, putuslah, hilanglah sudah nyawaku.
Namun anehnya, aku selalu mengatakan ingin mati saja ketimbang memperbaiki semua. Padahal konsep berkeluargaku amat jelas, lengkap pula fasilitas, ide-ide agar merasa lebih hidup juga mengalir deras, namun semangat itu, memuai dimana entah.
Aku mendatangi banyak orang, mengeluhkan pada mereka tentang kemunduran hidupku ini, dan semua orang justru pergi. Kata mereka, justru akulah yang tengah membunuh diriku sendiri dengan selalu bersikap negatif begini.
Akupun kesal pada diriku sendiri. Apakah yang terjadi pada dirikupun, aku tak mengerti. Duniaku berjalan mundur, dan berubah menjadi kelam pekat yang hanya berisi air mata dan kemarahan. Semua hal yang manis dan ceria dulu, hilang.
Anakku adalah korban paling utama yang nomor satu paling menderita dengan sakit jiwaku ini. Sebenarnya ia adalah anak laki-laki yang manis. Rambutnya keriting, bermata besar, hidung jambu, dan bibir merah mungil, giginya rapih rata seperti ayahnya. Di usia 3 tahunnya, ia telah menunjukkan kecerdasannya. Banyak sekali hal yang ditanyakannya, ia cerewet, dan ia senang sekali menyanyi. Seharusnya aku bahagia membesarkannya. Tapi lebih seringnya, anugerah Tuhan ini, kuaniaya.
Sampai kapanpun dan bila kutanyakan pada siapapun di dunia ini, pastilah aku yang salah. Akulah yang memang tak mampu menjadi ibu yang baik. Bocah lelaki seusianya memang sedang lincah, sedang cerewet, dan sedang nakal-nakalnya. Khasnya balita. Tapi bagaimana dengan anakku? Aku memukulinya. Seringkali, aku justru ketakutan karena setiap kali aku memukulinya, ia akan menangis, lalu tidur, dan kukira ia telah mati. Aku menjadi amat paranoid. Dan ini terjadi tak hanya sekali dua.
Hari ini, aku ditampar dengan berita tentang bayi bernama Feri yang dianiaya ibunya. Aku merasa mual ketika melihat di layar televisi, Feri dengan seluruh tangan dan sekaligus kakinya terpaksa di-pen, karena patah semua tulangnya. Lalu kulihat anakku, apakah aku tega membuatnya menjadi seperti Feri yang malang? Siapakah aku yang selama ini menghajar anakku bila ia sedikit saja melakukan kesalahan? Apa hakku yang melampiaskan semua frustasiku pada anakku padahal aku susah payah melahirkannya dulu? Sudah tak punya hatikah aku? Sementara melihat berita bayi Feri, aku menitikkan air mata, lalu kemana kasih sayangku terhadap anakku sendiri, jika aku selalu menjadikannya bulan-bulanan stres yang kualami? Masihkah aku manusia atau sudah menjadi setan kini? Tidddaaaakk!!
Aku merasa ada yang aneh dalam diriku, dalam jiwaku, perubahan mentalku. Mungkin aku memang benar-benar sakit jiwa. Tapi sungguh tak ada yang bisa menolongku selain diriku sendiri. Curhat dengan seorang kawan amatlah menolong. Amat melegakan. Berbincang dengan seorang teman yang dulu sama-sama bekerja di bidang kreatif, sangat menginspirasi dan berhasil membuat hasratku perlahan bangkit lagi. Benar-benar bersyukur masih dikelilingi lingkaran persahabatan yang tulus dari beberapa teman. Berarti hanya tinggal aku yang harus mulai melawan diriku sendiri. Mampukah? Harus! Indeed.
*matamu jgn curiga gitu donk! Aku masih dan akan terus berusaha menjadi manusia kok. Hatiku masih milik Ganesh.
Ganeshauman Taqwa, my sun-son

Jangan Kalah Sama Baby Blues
Menjadi ibu adalah karunia yang amat berharga untuk setiap perempuan di segala penjuru dunia, bahkan pada bangsa hewan sekalipun. Proses melahirkan anak yang telah kita kandung dan menjadi bagian dalam diri kita sungguh tak akan ternilai harganya. Menjadi ibu adalah keajaiban, dan melahirkan adalah rahasia Tuhan yang paling menakjubkan. Namun ternyata, menjadi ibu juga berdampak negatif pada sebagian wanita. Selain mengubah bentuk fisik, efek negatif ini juga menyerang psikis para ibu. Derita psikis inilah yang disebut-sebut dengan baby blues.
Faktor utama terjadinya baby blues disebabkan oleh ketidaksiapan mental sang ibu dalam menerima perubahan fungsi dirinya yang kini bertambah dengan menjadi orang tua. Berikut adalah kondisi dan tips mudah memutarbalikkan baby blues.
Jika Anda merasa baby blues karena aneh menyaksikan ada seorang manusia mungil lahir dari tubuh Anda, seharusnya Anda bangga karena Anda baru saja naik kelas. Selamat! Derajat Anda sebagai perempuan baru saja naik menjadi wanita sempurna. Buka mata Anda, tidak semua perempuan seberuntung Anda. Apalagi bila Anda diberkahi bayi yang sehat, sempurna, dan lucu. Suamipun akan lebih menghargai Anda dan ikatan di antara Anda berdua akan semakin lekat. Dan percayalah, jika rumahtangga Anda sebelumya kurang hangat, anak bisa menjadi obat dari itu semua. Ialah perekatnya kelak, bahkan hingga maut datang memisahkan.
Jika Anda merasa baby blues karena tidak percaya diri ketika harus menggendong dan menyusui bayi merah Anda, mulailah berfikir dengan penuh jiwa sosial. Anda sebagai perempuan yang punya sifat sentimentil dan lebih halus daripada laki-laki, tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana bisa membantu mengurangi kelaparan anak-anak di Ethiopia, sementara di depan Anda, ada seorang anak yang membutuhkan kasih sayang Anda agar ia dapat terus hidup. Hanya ASI Anda yang terbaik untuknya saat ini. Jadi janganlah bersikap egois dengan merasa takut bentuk payudara Anda akan rusak. Anda tahu ini tidak akan berlangsung selamanya toh? Anda akan punya waktu untuk memperbaikinya nanti, setelah bayi Anda tidak memerlukan ASI lagi. Kalau dulu waktu kecil kita bermain-main dengan boneka kita dan menyuapinya, maka sekarang ini Anda bisa menyuapi bayi sebenarnya. Menyenangkan bukan?
Jika Anda merasa baby blues karena kerepotan mengurus bayi Anda, tariklah nafas dalam-dalam dan kerjakan semua satu-satu secara perlahan. Tidak ada yang menuntut Anda sesegera mungkin harus menyelesaikan semua. Ini bukan ujian dan Anda tidak sedang dikejar waktu. Ini adalah hidup yang mengalir. Lagipula Anda boleh meminta bantuan jika memang butuh. Ada banyak orang yang bisa membantu Anda. Ibu, ibu mertua, saudara, atau babysitter sekalipun akan siap membantu Anda dengan senang hati. Mengurus anak adalah proses belajar. Dan kita tahu, belajar harus pelan-pelan dan berulang-ulang. Saat ini sudah banyak sekali buku atau situs internet yang bisa Anda jadikan pegangan dalam mengurus anak. Nanti Anda akan terbiasa dan rutin melakukan aktifitas menjadi ibu, dan sadarkah Anda bahwa saat itu Anda sudah menjadi entrepreneur?
Jika Anda merasa baby blues karena merasa takut kehilangan pekerjaan dan karir Anda karena repot mengurus anak, ubahlah pikiran ini. Dunia ibu dan dunia bayi adalah dunia yang amat luas dan penuh warna-warni. Anda tidak akan pernah melihat semua ini sebelumnya. Anda bisa saja berpindah-pindah kerja dan membuat prestasi di tiap-tiap tempat itu. Tapi, bekerja sebagai ibu adalah pekerjaan yang jauh berbeda dengan pekerjaan Anda di kantor. Dan jika Anda sebelumnya adalah wanita karir yang menyukai tantangan, inilah wahana baru yang penuh tantangan berbeda buat Anda. Prestasi yang Anda capaipun bukan sekedar penghargaan atau promosi, tapi bonding yang makin erat dengan si kecil, dan juga pahala. Ya, merawat anak bisa membuat Anda lebih dekat dengan Tuhan dan surgaNya. Jelas kan bedanya? Ini adalah pekerjaan yang tak hanya meyangkut duniawi semata, tapi juga akhirat dan akan berakhir di surga bila kita menjadi ibu yang baik. Ada hubungan mistis yang terjadi antara Anda, bayi Anda dan juga Sang Pencipta Kasih Sayang ketika kita melewati momen-momen berharga karena merawat si kecil dan menyaksikan pertumbuhannya.
Jika Anda merasa baby blues karena takut kehilangan kebebasan dan kesenangan karena anak akan membelenggu Anda, sadarilah ini merupakan konsekuensi dan percayalah bahwa ada lebih banyak lagi kesenangan dan tawa, atau sekaligus tangis haru yang akan lahir seiring dengan pertumbuhan bayi kita. Lagipula Anda masih punya waktu di sela-sela rutinitas Anda merawatnya. Silakan susun kegiatan-kegiatan yang Anda suka dan dapat Anda lakukan sebagai refreshing pada saat Me Time-Anda. Banyak sekali kesenangan baru untuk kita para ibu baru. Contoh kecilnya saja, bila dulu kita berbelanja pakaian untuk kita saja, sekarang ada euphoria tersendiri ketika sibuk memilihkan pakaian si kecil di toko. Pasti berbeda karena kita sekarang memilih baju-baju yang mungil dan beragam warna dengan model yang lucu-lucu pula, dan membayangkan bagaimana jadinya bila bayi kita memakai pakaian ini. Bila dulu kita tak pernah masuk dapur, saat ini kita akan mulai meramu resep untuk kita berikan ketika si kecil mulai makan makanan tambahan. Semakin kreatif kita memodifikasi resep, semakin liar imajinasi kita. Mungkin kebebasan itu memang tidak seluas dulu, tapi yang paling penting adalah sekarang hidup Anda lebih baik, lebih terkendali, lebih teratur, dan Anda menjadi lebih dewasa dan bijak.
Brian Tracy, dalam bukunya Change Your Thinking-Change Your Life, menuliskan beberapa hal yang bisa kita aplikasikan sebagai trik melawan baby blues dan mengubah hidup Anda menjadi lebih baik lagi.
Berpikir Positif
Berpikir positif berarti menunjang kehidupan Anda agar menjadi lebih baik. Pikiran positif ini akan meng-empower Anda hingga Anda menjadi merasa lebih kuat dan percaya diri. Berpikir positif secara langsung akan memberi efek-efek yang konstruktif yang besarnya dapat diukur terhadap kepribadian, kesehatan, tingkat energi, dan kreativitas Anda. Semakin positif dan optimis, maka semakin bahagialah Anda. Maka jangan biarkan pikiran negatif men-disempower Anda karena ini hanya akan menghasilkan hal buruk pada diri Anda. Kapan pun Anda merasa lemah dan tidak percaya diri, Anda sebenarnya sedang menyerah. Dan saat itu Anda merasa marah dan defensif, bahkan frustasi dan tidak bahagia. Pada kondisi inilah baby blues menyerang Anda. Sebaiknya jangan dipertahankan karena lama-kelamaan pemikiran yang negatif akan dapat membuat Anda sakit secara fisik, dan bahkan dapat merusak hubungan Anda dengan suami, sang bayi, atau juga orang lain.
Biarkan Emosi-emosi Negatif Kelaparan
Hukum Substitusi berkata, “Otak Anda hanya mempunyai cukup ruang bagi satu pikiran setiap kalinya, apakah itu positif ataupun negatif. Anda dapat menyubstitusi sebuah pikiran negatif dengan sebuah pikiran positif kapan pun Anda mau.” Lalu Hukum Emosi mengatakan, “Sebuah emosi yang lebih kuat akan mendominasi dan menindas emosi yang lemah, dan emosi yang mendapatkan konsentrasi Anda akan tumbuh berkembang dan menjadi kuat.” Jadi setiap kali Anda bereaksi dan memberikan respons yang positif pada apa yang tengah Anda jalani, Anda sebenarnya tengah mengendalikan alam bawah sadar Anda agar tidak menyerah begitu saja. Dan bila Anda terbiasa dengan ini, maka Anda akan dapat melewati semua kesusahan, hingga kemudian berhasil menguasai hidup Anda seutuhnya.
Ubahlah Interpretasi Anda atas Berbagai Peristiwa
Tekankan bahwa setiap saat Anda dapat melakukan interpretasi ulang atas peristiwa-peristiwa yang tidak membahagiakan yang terjadi di masa lalu dan mengubahnya menjadi hikmah yang positif. Sisi itulah yang perlu Anda masukkan ke dalam pikiran Anda dari serangkaian kesulitan dan pembelajaran selama mengandung dan melahirkan. Dan bagaimana tugas menjadi ibu menunggu di depan. Fokuskan diri Anda pada bagaimana pengalaman buruk yang pernah terjadi kemarin-kemarin justru dapat membuat Anda tumbuh menjadi ibu yang lebih baik dan bijaksana kelak. Hapuskan kata-kata “andai saja”, tiada guna menyesali. Hentikan melakukan pembenaran diri. Lakukan saja dengan tulus. Jika memang salah, akui saja, toh Anda punya kesempatan untuk memperbaiki semua. Jangan terlalu larut dalam kesakitan dan kesalahan yang sudah-sudah. Anda tidak mau terjatuh ke dalam lubang berkali-kali kan?
Jadilah Diri Anda Sendiri
Ketakutan-ketakutan itu mungkin saja datang karena opini orang-orang di sekeliling Anda. Tidak ada satu orang pun yang dapat mengendalikan Anda, apalagi menyangkut hubungan Anda dengan bayi Anda. Jangan pernah melakukan sesuatu, atau batal melakukan sesuatu hanya karena Anda mempertimbangkan apa yang akan orang pikirkan tentang Anda. Kenyataannya tidak ada seorangpun yang memikirkan Anda sama sekali. Anda harus tahu persis siapa Anda, dan bukan bayang-bayang mereka, sehingga Anda tidak perlu terus berusaha mencari pengakuan dari orang lain. Kenyataannya tidak ada seorang pun yang lebih peduli pada Anda dan bayi Anda selain Anda sendiri. Oleh karena itu, jalanilah dengan baik. Rencanakan semua dengan baik. Rawatlah bayi Anda dengan baik.
Bebaskan Diri Anda
Maafkanlah diri Anda jika memang ada luka lama yang tertinggal. Ini adalah lembaran baru untuk Anda. Terimalah tanggung jawab itu. Buatlah penyesalan yang positif, katakan, “Saya maafkan semua yang telah terjadi. Saya adalah perempuan yang baik. Saya bisa menjadi ibu yang hebat. Kelak masa depan saya bersama keluarga akan indah.” Ulanglah kata-kata itu hingga memenuhi kepala Anda dan akhirnya akan membangkitkan Anda kembali. Tidak ada kesulitan yang tak usai.
Menjadi ibu tidaklah mudah. Akan menjadi lebih sulit jika Anda tidak punya rasa kasih sayang pada bayi Anda. Sementara yang perlu Anda ingat adalah bayi Anda merupakan buah kasih sayang Anda dengan suami. Ia adalah sesuatu yang lahir atas nama cinta. Ia tak berdosa, bahkan ia tak meminta dilahirkan. Ia hadir justru untuk menyempurnakan Anda. Berpikirlah yang indah karena ia punya banyak sekali kejutan indah hanya untuk Anda, ibunya. Ibarat menabung dan menanam, jika Anda merawat dan menabung yang baik dengan penuh kepedulian dan kasih sayang, maka hasil yang akan Anda dapat adalah anak yang akan menyayangi dan berbakti pada Anda kelak. Percaya tidak percaya, tiket surga itu sudah di tangan Anda. Indahnya lagi, di telapak kaki kita terletak surga untuk mereka. Berbahagialah, Ibu.(*)
Faktor utama terjadinya baby blues disebabkan oleh ketidaksiapan mental sang ibu dalam menerima perubahan fungsi dirinya yang kini bertambah dengan menjadi orang tua. Berikut adalah kondisi dan tips mudah memutarbalikkan baby blues.
Jika Anda merasa baby blues karena aneh menyaksikan ada seorang manusia mungil lahir dari tubuh Anda, seharusnya Anda bangga karena Anda baru saja naik kelas. Selamat! Derajat Anda sebagai perempuan baru saja naik menjadi wanita sempurna. Buka mata Anda, tidak semua perempuan seberuntung Anda. Apalagi bila Anda diberkahi bayi yang sehat, sempurna, dan lucu. Suamipun akan lebih menghargai Anda dan ikatan di antara Anda berdua akan semakin lekat. Dan percayalah, jika rumahtangga Anda sebelumya kurang hangat, anak bisa menjadi obat dari itu semua. Ialah perekatnya kelak, bahkan hingga maut datang memisahkan.
Jika Anda merasa baby blues karena tidak percaya diri ketika harus menggendong dan menyusui bayi merah Anda, mulailah berfikir dengan penuh jiwa sosial. Anda sebagai perempuan yang punya sifat sentimentil dan lebih halus daripada laki-laki, tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana bisa membantu mengurangi kelaparan anak-anak di Ethiopia, sementara di depan Anda, ada seorang anak yang membutuhkan kasih sayang Anda agar ia dapat terus hidup. Hanya ASI Anda yang terbaik untuknya saat ini. Jadi janganlah bersikap egois dengan merasa takut bentuk payudara Anda akan rusak. Anda tahu ini tidak akan berlangsung selamanya toh? Anda akan punya waktu untuk memperbaikinya nanti, setelah bayi Anda tidak memerlukan ASI lagi. Kalau dulu waktu kecil kita bermain-main dengan boneka kita dan menyuapinya, maka sekarang ini Anda bisa menyuapi bayi sebenarnya. Menyenangkan bukan?
Jika Anda merasa baby blues karena kerepotan mengurus bayi Anda, tariklah nafas dalam-dalam dan kerjakan semua satu-satu secara perlahan. Tidak ada yang menuntut Anda sesegera mungkin harus menyelesaikan semua. Ini bukan ujian dan Anda tidak sedang dikejar waktu. Ini adalah hidup yang mengalir. Lagipula Anda boleh meminta bantuan jika memang butuh. Ada banyak orang yang bisa membantu Anda. Ibu, ibu mertua, saudara, atau babysitter sekalipun akan siap membantu Anda dengan senang hati. Mengurus anak adalah proses belajar. Dan kita tahu, belajar harus pelan-pelan dan berulang-ulang. Saat ini sudah banyak sekali buku atau situs internet yang bisa Anda jadikan pegangan dalam mengurus anak. Nanti Anda akan terbiasa dan rutin melakukan aktifitas menjadi ibu, dan sadarkah Anda bahwa saat itu Anda sudah menjadi entrepreneur?
Jika Anda merasa baby blues karena merasa takut kehilangan pekerjaan dan karir Anda karena repot mengurus anak, ubahlah pikiran ini. Dunia ibu dan dunia bayi adalah dunia yang amat luas dan penuh warna-warni. Anda tidak akan pernah melihat semua ini sebelumnya. Anda bisa saja berpindah-pindah kerja dan membuat prestasi di tiap-tiap tempat itu. Tapi, bekerja sebagai ibu adalah pekerjaan yang jauh berbeda dengan pekerjaan Anda di kantor. Dan jika Anda sebelumnya adalah wanita karir yang menyukai tantangan, inilah wahana baru yang penuh tantangan berbeda buat Anda. Prestasi yang Anda capaipun bukan sekedar penghargaan atau promosi, tapi bonding yang makin erat dengan si kecil, dan juga pahala. Ya, merawat anak bisa membuat Anda lebih dekat dengan Tuhan dan surgaNya. Jelas kan bedanya? Ini adalah pekerjaan yang tak hanya meyangkut duniawi semata, tapi juga akhirat dan akan berakhir di surga bila kita menjadi ibu yang baik. Ada hubungan mistis yang terjadi antara Anda, bayi Anda dan juga Sang Pencipta Kasih Sayang ketika kita melewati momen-momen berharga karena merawat si kecil dan menyaksikan pertumbuhannya.
Jika Anda merasa baby blues karena takut kehilangan kebebasan dan kesenangan karena anak akan membelenggu Anda, sadarilah ini merupakan konsekuensi dan percayalah bahwa ada lebih banyak lagi kesenangan dan tawa, atau sekaligus tangis haru yang akan lahir seiring dengan pertumbuhan bayi kita. Lagipula Anda masih punya waktu di sela-sela rutinitas Anda merawatnya. Silakan susun kegiatan-kegiatan yang Anda suka dan dapat Anda lakukan sebagai refreshing pada saat Me Time-Anda. Banyak sekali kesenangan baru untuk kita para ibu baru. Contoh kecilnya saja, bila dulu kita berbelanja pakaian untuk kita saja, sekarang ada euphoria tersendiri ketika sibuk memilihkan pakaian si kecil di toko. Pasti berbeda karena kita sekarang memilih baju-baju yang mungil dan beragam warna dengan model yang lucu-lucu pula, dan membayangkan bagaimana jadinya bila bayi kita memakai pakaian ini. Bila dulu kita tak pernah masuk dapur, saat ini kita akan mulai meramu resep untuk kita berikan ketika si kecil mulai makan makanan tambahan. Semakin kreatif kita memodifikasi resep, semakin liar imajinasi kita. Mungkin kebebasan itu memang tidak seluas dulu, tapi yang paling penting adalah sekarang hidup Anda lebih baik, lebih terkendali, lebih teratur, dan Anda menjadi lebih dewasa dan bijak.
Brian Tracy, dalam bukunya Change Your Thinking-Change Your Life, menuliskan beberapa hal yang bisa kita aplikasikan sebagai trik melawan baby blues dan mengubah hidup Anda menjadi lebih baik lagi.
Berpikir Positif
Berpikir positif berarti menunjang kehidupan Anda agar menjadi lebih baik. Pikiran positif ini akan meng-empower Anda hingga Anda menjadi merasa lebih kuat dan percaya diri. Berpikir positif secara langsung akan memberi efek-efek yang konstruktif yang besarnya dapat diukur terhadap kepribadian, kesehatan, tingkat energi, dan kreativitas Anda. Semakin positif dan optimis, maka semakin bahagialah Anda. Maka jangan biarkan pikiran negatif men-disempower Anda karena ini hanya akan menghasilkan hal buruk pada diri Anda. Kapan pun Anda merasa lemah dan tidak percaya diri, Anda sebenarnya sedang menyerah. Dan saat itu Anda merasa marah dan defensif, bahkan frustasi dan tidak bahagia. Pada kondisi inilah baby blues menyerang Anda. Sebaiknya jangan dipertahankan karena lama-kelamaan pemikiran yang negatif akan dapat membuat Anda sakit secara fisik, dan bahkan dapat merusak hubungan Anda dengan suami, sang bayi, atau juga orang lain.
Biarkan Emosi-emosi Negatif Kelaparan
Hukum Substitusi berkata, “Otak Anda hanya mempunyai cukup ruang bagi satu pikiran setiap kalinya, apakah itu positif ataupun negatif. Anda dapat menyubstitusi sebuah pikiran negatif dengan sebuah pikiran positif kapan pun Anda mau.” Lalu Hukum Emosi mengatakan, “Sebuah emosi yang lebih kuat akan mendominasi dan menindas emosi yang lemah, dan emosi yang mendapatkan konsentrasi Anda akan tumbuh berkembang dan menjadi kuat.” Jadi setiap kali Anda bereaksi dan memberikan respons yang positif pada apa yang tengah Anda jalani, Anda sebenarnya tengah mengendalikan alam bawah sadar Anda agar tidak menyerah begitu saja. Dan bila Anda terbiasa dengan ini, maka Anda akan dapat melewati semua kesusahan, hingga kemudian berhasil menguasai hidup Anda seutuhnya.
Ubahlah Interpretasi Anda atas Berbagai Peristiwa
Tekankan bahwa setiap saat Anda dapat melakukan interpretasi ulang atas peristiwa-peristiwa yang tidak membahagiakan yang terjadi di masa lalu dan mengubahnya menjadi hikmah yang positif. Sisi itulah yang perlu Anda masukkan ke dalam pikiran Anda dari serangkaian kesulitan dan pembelajaran selama mengandung dan melahirkan. Dan bagaimana tugas menjadi ibu menunggu di depan. Fokuskan diri Anda pada bagaimana pengalaman buruk yang pernah terjadi kemarin-kemarin justru dapat membuat Anda tumbuh menjadi ibu yang lebih baik dan bijaksana kelak. Hapuskan kata-kata “andai saja”, tiada guna menyesali. Hentikan melakukan pembenaran diri. Lakukan saja dengan tulus. Jika memang salah, akui saja, toh Anda punya kesempatan untuk memperbaiki semua. Jangan terlalu larut dalam kesakitan dan kesalahan yang sudah-sudah. Anda tidak mau terjatuh ke dalam lubang berkali-kali kan?
Jadilah Diri Anda Sendiri
Ketakutan-ketakutan itu mungkin saja datang karena opini orang-orang di sekeliling Anda. Tidak ada satu orang pun yang dapat mengendalikan Anda, apalagi menyangkut hubungan Anda dengan bayi Anda. Jangan pernah melakukan sesuatu, atau batal melakukan sesuatu hanya karena Anda mempertimbangkan apa yang akan orang pikirkan tentang Anda. Kenyataannya tidak ada seorangpun yang memikirkan Anda sama sekali. Anda harus tahu persis siapa Anda, dan bukan bayang-bayang mereka, sehingga Anda tidak perlu terus berusaha mencari pengakuan dari orang lain. Kenyataannya tidak ada seorang pun yang lebih peduli pada Anda dan bayi Anda selain Anda sendiri. Oleh karena itu, jalanilah dengan baik. Rencanakan semua dengan baik. Rawatlah bayi Anda dengan baik.
Bebaskan Diri Anda
Maafkanlah diri Anda jika memang ada luka lama yang tertinggal. Ini adalah lembaran baru untuk Anda. Terimalah tanggung jawab itu. Buatlah penyesalan yang positif, katakan, “Saya maafkan semua yang telah terjadi. Saya adalah perempuan yang baik. Saya bisa menjadi ibu yang hebat. Kelak masa depan saya bersama keluarga akan indah.” Ulanglah kata-kata itu hingga memenuhi kepala Anda dan akhirnya akan membangkitkan Anda kembali. Tidak ada kesulitan yang tak usai.
Menjadi ibu tidaklah mudah. Akan menjadi lebih sulit jika Anda tidak punya rasa kasih sayang pada bayi Anda. Sementara yang perlu Anda ingat adalah bayi Anda merupakan buah kasih sayang Anda dengan suami. Ia adalah sesuatu yang lahir atas nama cinta. Ia tak berdosa, bahkan ia tak meminta dilahirkan. Ia hadir justru untuk menyempurnakan Anda. Berpikirlah yang indah karena ia punya banyak sekali kejutan indah hanya untuk Anda, ibunya. Ibarat menabung dan menanam, jika Anda merawat dan menabung yang baik dengan penuh kepedulian dan kasih sayang, maka hasil yang akan Anda dapat adalah anak yang akan menyayangi dan berbakti pada Anda kelak. Percaya tidak percaya, tiket surga itu sudah di tangan Anda. Indahnya lagi, di telapak kaki kita terletak surga untuk mereka. Berbahagialah, Ibu.(*)
Langganan:
Postingan (Atom)